Pemprov Papua Tengah Berdayakan Mama Papua Kelola Pangan Lokal Dukung Program Makan Bergizi

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 01 Mei 2026 | 03:01:16 WIB
Mama Papua mengikuti pelatihan pengolahan pangan lokal untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Papua Tengah.

NABIRE - Pemerintah Provinsi Papua Tengah resmi memprogramkan pelatihan khusus bagi mama-mama Papua guna mengolah bahan pangan lokal dalam mendukung implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini menjadi salah satu prioritas utama Penjabat Gubernur Papua Tengah untuk memastikan ketersediaan asupan bergizi bagi anak-anak sekolah dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam setempat.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Papua Tengah, Agustinus Bagau, menyatakan bahwa pihaknya dipercaya sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bertanggung jawab melatih kaum perempuan di kampung-kampung. Fokus utama pelatihan ini adalah membekali mereka dengan keterampilan mengolah bahan pangan non-beras yang melimpah di wilayah Papua Tengah.

Transformasi Pangan Lokal Menjadi Sumber Gizi Utama

Dalam keterangannya di Nabire pada Kamis (21/11), Agustinus menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar masyarakat tidak lagi bergantung pada pasokan beras atau bahan pangan dari luar daerah. Mama-mama Papua akan dilatih mengolah sagu, ikan, dan berbagai jenis umbi-umbian menjadi menu makanan sehat yang memenuhi standar gizi nasional.

“Kami ingin mama-mama Papua mampu mengolah makanan lokal di wilayah masing-masing. Ini adalah langkah untuk mendukung operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama di wilayah-wilayah yang masuk kategori 3T,” ujar Agustinus Bagau. Menurutnya, pemanfaatan sagu dan umbi-umbian sangat relevan dengan kondisi geografis dan budaya konsumsi masyarakat lokal.

Selain fokus pada aspek kesehatan, program ini diarahkan untuk menciptakan kemandirian ekonomi bagi perempuan asli Papua. Dengan memiliki keterampilan pengolahan pangan yang terstandarisasi, para perempuan di kampung dapat lebih produktif dan memiliki peran sentral dalam rantai pasok program pemerintah di daerah mereka sendiri.

Pembangunan 50 Titik Dapur Pelayanan Gizi di Nabire

Pemerintah Provinsi Papua Tengah saat ini tengah melakukan pemetaan intensif di delapan kabupaten untuk menentukan lokasi pembangunan dapur SPPG. Pemetaan ini krusial agar pelatihan yang diberikan kepada mama-mama Papua tepat sasaran dan berada di sekitar titik dapur yang akan dibangun. Strategi ini memastikan bahwa tenaga kerja yang sudah terlatih bisa langsung terserap saat fasilitas mulai beroperasi.

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Nabire, Marsel Asyerem, memberikan apresiasi tinggi terhadap gerak cepat pemerintah daerah. Ia mengungkapkan bahwa khusus untuk wilayah Kabupaten Nabire, dibutuhkan sedikitnya 50 titik dapur SPPG di daerah-daerah 3T. Kebutuhan tenaga kerja yang besar ini menjadi peluang bagi masyarakat lokal.

“Ini adalah langkah terobosan yang sangat baik. Tenaga dapur memang harus melalui pelatihan agar mereka bekerja sesuai standar operasional prosedur yang ditetapkan. Keterlibatan langsung mama-mama Papua menjadi kunci utama keberlanjutan program MBG di lapangan,” kata Marsel Asyerem menjelaskan urgensi kolaborasi tersebut.

Dampak Ekonomi dan Pengurangan Angka Pengangguran

Keterlibatan aktif perempuan Papua dalam program ini diprediksi akan membawa dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah. Marsel menekankan bahwa partisipasi masyarakat akan menjadi lebih kuat karena penerima manfaat dari program makan bergizi ini adalah anak-anak mereka sendiri yang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah sekitar.

“Selain memastikan gizi anak terjaga, program ini secara otomatis menyerap tenaga kerja lokal dan membantu mengurangi angka pengangguran di tingkat kampung. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam pembangunan sumber daya manusia di Papua Tengah,” tambah Marsel.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen mengembangkan program ini secara berkelanjutan dengan mendorong masyarakat untuk mulai menanam kembali bahan pangan lokal di lahan-lahan mereka. Sinergi antara pemenuhan gizi, pemberdayaan perempuan, dan penguatan sektor pertanian lokal diharapkan mampu menciptakan ketahanan pangan yang kokoh di Bumi Cendrawasih.

Reporter: Redaksi
Back to top