Far Far West mencatat penjualan 250.000 kopi dalam 48 jam pertama setelah resmi rilis di Steam Early Access pekan ini. Game co-op shooter bertema koboi robot tersebut memimpin jajaran judul indie baru yang layak dicoba gamer Indonesia, mencakup genre aksi hack-and-slash hingga roguelite unik berbasis catur.
Industri game independen kembali menunjukkan taringnya lewat rilisnya sejumlah judul potensial di platform PC dan konsol. Far Far West, proyek ambisius dari developer Evil Raptor, menjadi sorotan utama setelah menembus angka penjualan fantastis di fase awal peluncurannya. Tren ini memperkuat posisi game indie sebagai alternatif serius bagi pemain yang mulai jenuh dengan judul AAA yang repetitif.
Selain genre shooter, pekan ini juga diwarnai dengan kehadiran game naratif yang emosional serta eksperimen mekanik roguelite yang segar. Para pengembang skala kecil ini mulai berani mengeksplorasi visual pixel-art yang detail serta sistem antarmuka (UI) unik untuk menarik perhatian komunitas global, termasuk pemain di pasar Asia Tenggara.
Far Far West: Co-op Shooter Koboi Robot
Far Far West membawa pemain ke atmosfer ala Wild West, namun dengan sentuhan futuristik. Pemain berperan sebagai koboi robot yang bisa dimainkan secara solo maupun dalam tim berisi empat orang. Fokus utamanya adalah berburu target berbahaya di lokasi-lokasi berhantu untuk mendapatkan hadiah atau bounty.
- Genre: Co-op Extraction Shooter
- Platform: PC (Steam Early Access)
- Fitur Utama: Upgrade senjata, kemampuan sihir, kustomisasi karakter dan kuda
- Musuh: Skeleton, burung hering undead, hingga kereta hantu
Game ini memiliki elemen ekstraksi yang mengingatkan pada mekanik Helldivers 2, di mana pemain harus menyelesaikan objektif tambahan untuk mendapatkan imbalan lebih besar. Saat ini, Far Far West dibanderol seharga Rp320.000 (sekitar $20), dengan diskon peluncuran 10 persen yang berlaku hingga 5 Mei 2024.
SoulQuest dan Gambonanza: Aksi dan Strategi Unik
Bagi penggemar aksi cepat, SoulQuest menawarkan petualangan 2D hack-and-slash dengan animasi pixel-art yang sangat halus. Dikembangkan selama tujuh tahun oleh SoulBlade Studio, game ini mengisahkan perjuangan Alys, seorang pejuang yang berusaha merebut kembali jiwa suaminya. Mekanik pertarungannya mengandalkan kombinasi serangan ringan dan berat serta kemampuan pamungkas (ultimate).
Di sisi lain, Gambonanza hadir sebagai "pesaing" spiritual Balatro namun dengan basis permainan catur. Game roguelite ini sudah diunduh lebih dari 170.000 kali saat ajang Steam Next Fest lalu. Pemain harus mengalahkan lawan di papan catur kecil menggunakan lebih dari 150 "gambit" atau modifikasi kartu yang bisa mengubah aturan main secara drastis.
Harga dan Ketersediaan
Berikut adalah rincian harga untuk beberapa judul indie terbaru yang baru saja mendarat di pasar:
- SoulQuest: Rp320.000 (Diskon 20% menjadi Rp256.000 hingga 15 Mei) di Steam.
- Gambonanza (PC): Rp240.000 (Diskon 35% menjadi Rp156.000 hingga 15 Mei).
- Gambonanza (Mobile): Tersedia di iOS dan Android dengan harga sekitar Rp112.000.
- The Day I Became A Bird: Rp320.000 di Steam, PS5, dan Nintendo Switch.
Peluang bagi Gamer dan Kolektor Trophy Indonesia
Kehadiran game seperti The Day I Became A Bird menjadi angin segar bagi gamer Indonesia yang menyukai cerita pendek yang menyentuh. Dengan durasi permainan hanya sekitar satu jam, game ini menjadi incaran para pemburu Platinum Trophy di PS5 karena tingkat kesulitannya yang rendah namun memiliki kualitas visual seperti buku cerita anak-anak.
Selain itu, Steam tengah menggelar event InterfaceX26 hingga 4 Mei mendatang. Festival ini memamerkan game-game dengan simulasi sistem operasi unik, yang sangat cocok bagi pengguna PC di Indonesia yang gemar bereksperimen dengan estetika retro atau antarmuka komputer klasik. Momentum rilisnya game-game indie ini diprediksi akan terus meningkat hingga ajang Punk Games Fest yang direncanakan berlangsung Oktober mendatang.