JAYAPURA — Layanan Meteorologi Fiji (Fiji Met) resmi merilis peringatan dini terkait transisi iklim menuju El Nino yang berpotensi memicu kekeringan di negara kepulauan tersebut. Berdasarkan laporan terbaru, kondisi curah hujan di bawah normal diprediksi akan melanda wilayah penanaman tebu sepanjang periode Mei hingga Agustus 2026.
Laporan Prakiraan Curah Hujan Tebu menyebutkan bahwa El Nino–Southern Oscillation (ENSO) saat ini masih berada dalam fase netral. Namun, terdapat indikasi kuat terjadinya pergeseran cuaca yang cukup signifikan dalam waktu dekat, tepatnya pada periode Mei hingga Juli.
"Selama fenomena El Nino, Fiji kemungkinan akan mengalami curah hujan di bawah normal dan peningkatan risiko kondisi kekeringan," tulis pernyataan resmi Kantor Meteorologi Fiji sebagaimana dikutip dari laman Fiji Times, Minggu (10/5/2026).
Meskipun ancaman kekeringan mengintai, Fiji Met mencatat adanya efek keterlambatan (lag effect) dari fase La Nina yang baru saja berakhir. Hal ini menyebabkan beberapa wilayah mungkin masih akan merasakan kondisi yang lebih basah atau hujan intensitas tinggi sebelum kekeringan benar-benar menetap di seluruh negeri.
Pemerintah setempat memberikan perhatian khusus pada daerah produktif tebu yang menjadi tulang punggung ekonomi. Berikut adalah rincian prakiraan curah hujan untuk periode mendatang:
Selain ancaman El Nino, otoritas meteorologi juga mengingatkan warga untuk tetap waspada terhadap potensi bencana lain. Meski musim siklon tropis 2025–2026 segera berakhir, risiko munculnya badai di luar musim tetap harus diperhitungkan dalam langkah mitigasi.
Para petani dan masyarakat umum diminta melakukan langkah pencegahan dini untuk mengamankan stok air dan melindungi lahan pertanian. Langkah antisipasi ini dinilai krusial mengingat sektor perkebunan tebu sangat bergantung pada stabilitas pasokan air hujan untuk menjaga kualitas produksi nasional.