JAYAPURA — Rantai pasokan bantuan pangan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Papua bukan sekadar urusan logistik biasa. Bagi warga di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, dan Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, suara mesin pesawat adalah pembawa harapan. Di tempat-tempat itu, akses darat nyaris tidak ada, dan cuaca menjadi satu-satunya faktor penentu apakah bahan pokok bisa tiba atau tidak.
Pimpinan Perum Bulog Wilayah Papua, Ahmad Mustari, mengungkapkan bahwa pengiriman melalui jalur udara bisa rampung dalam sehari jika cuaca bersahabat. Namun, jika cuaca buruk, logistik bisa tertahan berhari-hari di hanggar maskapai.
“Tantangan utama kita itu cuaca. Kalau cuaca bagus, hari ini dikeluarkan dari gudang, hari ini juga sampai. Tapi kalau tidak, harus menunggu sampai kondusif,” ujar Mustari.
Tidak semua daerah bisa dijangkau pesawat. Kabupaten Nduga dan Yahukimo di Provinsi Papua Pegunungan hanya bisa diakses melalui sungai menggunakan Kapal Landing Craft Transport (LCT). Perjalanan dari Pelabuhan Pomako menyusuri pesisir Laut Arafuru hingga masuk ke Sungai Batas Batu memakan waktu hingga 14 hari.
“Kalau debit air surut, kapal tidak bisa jalan. Proses ini bisa beberapa kali dan paling lama 14 hari,” kata Mustari.
Ironisnya, kondisi yang dibutuhkan justru kebalikan dari wilayah pegunungan. Di sana, pihak Bulog berharap hujan turun di bagian hulu agar sungai memiliki cukup air untuk dilayari.
Kepala Bulog Cabang Mimika, Dedi Wahyudi, menyebut ongkos angkut ke Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, menjadi yang termahal. “Iya, ada yang sampai Rp 60 ribu per kilo, itu ke distrik di Puncak,” cetusnya.
Biaya ini belum termasuk risiko pengiriman. Dedi mencontohkan, pesawat yang hendak mendarat di Sinak kerap terpaksa return to base (RTB) atau mencari bandara alternatif karena cuaca berubah drastis dalam hitungan menit. Jika tidak ada bandara terdekat, pesawat kembali ke Timika dan logistik menginap di hanggar maskapai hingga cuaca memungkinkan.
Meski jumlah penduduk di pegunungan Papua relatif kecil dibandingkan Pulau Jawa, Bulog tetap menyalurkan bantuan sesuai pagu yang ditetapkan Badan Pangan Nasional. Mustari menegaskan bahwa tugas ini bukan sekadar distribusi, melainkan misi kemanusiaan.
“Jadi kita tidak bisa melihat besar kecilnya jumlah penduduk, tapi ini kepedulian pemerintah. Bulog menerima amanah penyediaan komoditi yang harus sesuai pagu,” tuturnya.
Dari gudang di Jayapura, karung beras dan minyak goreng memulai perjalanan panjang. Bagi warga di pelosok, setiap ton bantuan yang tiba bukan sekadar barang, melainkan bukti bahwa negara hadir di tengah medan yang tak bersahabat.