Rupiah Tembus Rp 17.724 per Dolar AS, Level Terlemah Sepanjang Sejarah Terjadi Pagi Ini

Penulis: Ragil  •  Selasa, 19 Mei 2026 | 11:20:16 WIB
Rupiah melemah ke level terendah sepanjang sejarah di Rp 17.724 per dolar AS pagi ini.

PAPUA — Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah sentimen global yang belum sepenuhnya pulih. Pagi ini, rupiah dibuka melemah 13 poin di level Rp 17.681 per dolar AS, lalu terus merosot hingga ke Rp 17.724. Sepanjang tahun berjalan, depresiasi rupiah telah mencapai 6,25%.

Pelemahan ini tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia kompak tertekan oleh penguatan dolar AS. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,74%, disusul baht Thailand 0,18%, dan yen Jepang yang melemah 0,08%. Rupee India, yuan China, dan dolar Singapura juga turun meski lebih moderat.

Sentimen Global Mulai Mereda, Tapi Domestik Masih Jadi Beban

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai ada secercah kabar baik dari panggung global. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran, yang sedikit meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. "Kekhawatiran pasar global mulai berkurang," ujar Lukman.

Meski begitu, pelaku pasar masih mencermati kondisi fundamental dalam negeri yang dinilai rapuh. Lukman memperkirakan rupiah berpotensi menguat, namun terbatas. Rentang pergerakan hari ini diproyeksikan berada di Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS.

Bank Sentral Jadi Tumpuan Harapan Investor

Salah satu faktor yang membuat pasar wait and see adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Investor berekspektasi BI akan menaikkan suku bunga acuan guna menahan laju pelemahan rupiah di tengah derasnya arus modal asing keluar.

Menurut Lukman, ekspektasi kenaikan suku bunga membuat pelaku pasar enggan mengambil posisi agresif. "Mereka cenderung berhati-hati menunggu keputusan BI," jelasnya. Jika BI jadi menaikkan bunga, ini bisa menjadi sinyal intervensi yang lebih tegas untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Bagi importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, pelemahan ini jelas menjadi pukulan. Biaya impor bahan baku membengkak, sementara margin keuntungan tergerus. Di sisi lain, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.

Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar bisa berubah cepat seiring dinamika global dan kebijakan domestik.

Reporter: Ragil
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top