PAPUA SELATAN — Di bawah cahaya api unggun yang redup, seorang ibu tua memegang segenggam sagu sambil menangis. Bukan karena lapar, melainkan karena kabar bahwa hutan di belakang kampungnya akan dibuka untuk proyek pangan dan bioenergi. "Hutan itu rumah kami," katanya lirih.
Adegan itu menjadi salah satu momen paling menghantam dalam film dokumenter Pesta Babi yang diproduksi pada 2026. Film ini tidak sekadar menyajikan data pembangunan, melainkan menghadirkan atmosfer kehilangan sebuah peradaban yang perlahan menghilang.
Secara sinematografis, film ini sangat kuat. Kamera menampilkan sunyinya hutan Papua, rawa-rawa yang mistis, dan pesta adat yang intim. Namun, suasana itu mendadak dipotong oleh suara alat berat, ekskavator, dan barisan aparat bersenjata. Benturan visual itu menciptakan rasa kehilangan yang menghantam emosi penonton.
Bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar objek ekonomi. Hutan adalah ruang kosmologi, identitas budaya, dan relasi spiritual dengan leluhur. Ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga memori kolektif dan bahasa alam.
Film ini mengungkap apa yang disebut sebagai "trilema pembangunan" di Papua. Pemerintah berupaya meningkatkan ketahanan pangan melalui proyek bioenergi, tetapi langkah itu berbenturan dengan upaya menjaga ekologi dan memastikan partisipasi aktif masyarakat lokal.
Dalam perspektif sosiologi, film ini relevan dibaca melalui teori modernisasi. Negara memandang hutan sebagai sumber daya ekonomi yang harus dioptimalkan demi pertumbuhan nasional. Namun, modernisasi kerap datang secara seragam dan memaksa, tanpa memahami struktur sosial dan budaya lokal masyarakat Papua.
Pandangan Karl Marx terasa kuat dalam film ini. Konflik sosial muncul ketika kelompok yang memiliki kekuasaan ekonomi menguasai alat produksi dan sumber daya. Di Papua, tanah adat yang dahulu menjadi ruang hidup bersama perlahan berubah menjadi ruang produksi kapital dan investasi.
Akibatnya, masyarakat adat mengalami keterasingan dari tanah yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari identitas mereka. Teori konflik Ralf Dahrendorf juga membantu membaca situasi ini: ketika pembangunan diputuskan dari atas tanpa partisipasi masyarakat adat, konflik sosial menjadi hampir tidak terhindarkan.
Film Pesta Babi mengingatkan pada konsep developmentalisme, yakni keyakinan bahwa pembangunan ekonomi selalu dianggap sebagai jalan utama menuju kemajuan. Padahal, pembangunan yang mengabaikan ekologi dan masyarakat lokal justru melahirkan luka sosial baru: kemiskinan struktural, konflik tanah, dan menurunnya kepercayaan terhadap negara.
Film ini tidak sekadar menyajikan data, tetapi memanusiakan isu Papua. Papua tidak hadir sebagai statistik pembangunan semata, melainkan sebagai wajah ibu-ibu yang kehilangan sungai, petani muda yang gagal bertani karena tidak memiliki modal, dan masyarakat adat yang menancapkan salib merah di hutan sebagai simbol perlawanan.
Pembangunan di Papua, kata film ini, seharusnya tidak hanya diukur dari panjang jalan, jumlah investasi, atau luas pembukaan lahan. Pembangunan sejati adalah ketika masyarakat adat tetap bisa mengakses hutan yang menjadi rumah mereka.