Selina Aurora, Penulis Muda Papua yang Terpilih di Festival Sastra Makassar: Menulis untuk Merawat Ingatan Rawa, Mangrove, dan Laut

Penulis: Yasir  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 09:55:50 WIB
Selina Aurora, penulis muda Papua, terpilih di Festival Sastra Makassar 2026.

MANOKWARI — Bagi Selina Aurora, menulis bukan sekadar merangkai kata. Ia adalah cara untuk merawat ingatan tentang kampung halamannya di Papua. Perempuan yang lahir dan tumbuh besar di Merauke ini kini resmi menjadi bagian dari Emerging Writers Makassar International Writers Festival 2026, sebuah festival sastra tahunan yang menjadi ruang temu bagi penulis dari kawasan Indonesia Timur.

Dalam podcast BERISIK Mongabay Indonesia, Selina menceritakan bagaimana masa kecilnya di Merauke membentuk cara pandangnya terhadap lingkungan. Rawa, mangrove, sungai, dan laut bukan sekadar pemandangan. Semua itu adalah ruang bermain, kolam renang, dan bagian dari ingatan yang melekat.

Mengapa Rawa dan Mangrove Jadi Tema Utama Tulisannya?

Selina mengaku bahwa pengalaman hidupnya di wilayah pesisir dan pulau saat bertugas sebagai pendeta pengajar di Manokwari membuat hubungannya dengan alam semakin kuat. “Bisa dikatakan, itu bukan hal yang terobservasi dari jauh, tetapi pengalaman yang melekat dengan ingatan saya sendiri,” ujarnya.

Ia kemudian bekerja di Sekolah Pendidikan Guru Jemaat di Manokwari, Papua Barat. Di sana, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga terus menulis. Tulisannya banyak menyoroti bagaimana pembangunan di Papua kerap merampas hak masyarakat adat dan lingkungan, terutama perempuan.

Bukan Anti Pembangunan, Tapi Kritis terhadap Ancaman Lingkungan

Lewat karya-karyanya, Selina ingin meluruskan persepsi bahwa orang Papua anti pembangunan. Menurutnya, masyarakat adat justru memiliki sikap kritis ketika pembangunan mulai mengancam hutan dan laut yang menjadi sumber kehidupan mereka. “Saya menulis kisah bagaimana mama-mama di Papua Selatan keluar dari ruang hidup mereka, dari kampung-kampung mereka,” katanya.

Ia juga menyoroti kelompok yang paling terdampak dari perubahan lingkungan: masyarakat adat, khususnya perempuan. Dalam tulisannya, Selina mengilustrasikan bagaimana ingatan tentang rawa dan mangrove perlahan-lahan kering dan terancam punah.

Merawat Ingatan Papua Lewat Sastra, Ekoteologi, dan Suara Perempuan

Selina tidak hanya menulis tentang Merauke. Pengalaman hidupnya di Waropen dan Manokwari sebagai pengajar dan pendeta ikut memperkaya cara pandangnya. Ia punya mimpi besar: agar cerita tentang Papua tidak hanya dibaca dari sudut konflik atau pembangunan semata.

Melalui pendekatan sastra, ekoteologi, dan suara perempuan, ia ingin mengajak pembaca melihat Papua sebagai rumah bersama yang menyimpan pengetahuan, martabat, dan perjuangan untuk menjaga kehidupan. “Menulis adalah cara untuk menjelaskan Papua secara lebih utuh dan jernih,” tegasnya.

Podcast BERISIK dari Mongabay Indonesia menjadi salah satu ruang bagi Selina untuk berbagi cerita. Dengan gaya bertutur yang jeli menangkap detail, ia hadir di tengah riuhnya percakapan tentang krisis iklim, hutan, laut, dan pangan yang makin saling bertaut. Kehadiran penulis muda seperti Selina dinilai penting untuk menyusun cerita dari hal-hal yang sering luput dari perhatian.

Reporter: Yasir
Sumber: mongabay.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top