Pencarian

Tiga Tokoh Papua yang Memperjuangkan Integrasi ke NKRI: Silas Papare, Frans Kaisiepo, dan J.A. Dimara

Sabtu, 23 Mei 2026 • 23:37:01 WIB
Tiga Tokoh Papua yang Memperjuangkan Integrasi ke NKRI: Silas Papare, Frans Kaisiepo, dan J.A. Dimara
Silas Papare memimpin pembentukan PKII sebagai fondasi politik perlawanan Papua terhadap kolonialisme Belanda.

JAKARTA — Tiga tokoh Papua disebut sebagai penggerak utama integrasi wilayah tersebut ke pangkuan NKRI. Hal itu tertuang dalam keterangan resmi Penkodam XVII/Cendrawasih yang dirilis baru-baru ini.

“Perjuangan bergabungnya Papua ke dalam bingkai NKRI tumbuh di tanah Papua dan dipelopori oleh tokoh-tokoh kunci. Mereka berjuang untuk meruntuhkan belenggu kolonial Belanda dan kedaulatan dan integrasi Papua bukanlah kado, ia diperjuangkan dengan tegak oleh masyarakat dan semangat putra daerah yang menginginkan persatuan,” tulis Penkodam XVII/Cendrawasih dalam keterangannya.

Silas Papare: Arsitek Politik Perlawanan Lewat PKII

Tokoh pertama adalah Silas Papare. Ia disebut membangun fondasi politik perlawanan di Papua melalui pembentukan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada tahun 1946. Perlawanan Silas menunjukkan bahwa upaya melawan kolonialisme Belanda dilakukan secara terorganisir melalui jalur diplomasi dan penggalangan dukungan masyarakat lokal. Tujuannya adalah melepaskan diri dari penjajahan untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

Frans Kaisiepo: Pencetus Nama “IRIAN” sebagai Simbol Perlawanan

Tokoh kedua adalah Frans Kaisiepo. Ia membangun identitas nasional dan perlawanan simbolik terhadap narasi kolonial Belanda. Frans berani mempopulerkan nama “IRIAN” yang merupakan akronim dari “Ikut Republik Indonesia Anti-Nederland” dalam Konferensi Malino tahun 1946. Tindakan ini secara semantik menegaskan keberpihakan rakyat Papua kepada Indonesia.

J.A. Dimara: Jembatan Perjuangan Rakyat dan Operasi Militer

Tokoh ketiga adalah Johannes Abraham (J.A.) Dimara. Ia disebut sebagai tokoh yang menjembatani perjuangan rakyat lokal dengan operasi militer pembebasan. Dimara memobilisasi kekuatan pemuda dan rakyat Papua di Biak untuk melakukan aksi gerilya. Ia menghadapi medan Papua yang sangat berat untuk menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Belanda didukung penuh oleh keberanian putra-putra daerah di lapangan.

Penkodam XVII/Cendrawasih menegaskan bahwa perjuangan ketiga tokoh ini membuktikan aspirasi integrasi telah mengakar kuat dalam kesadaran politik masyarakat Papua. Mereka disebut sebagai bukti bahwa Papua bukanlah kado, melainkan hasil perjuangan tegak dari putra daerah yang menginginkan persatuan.

Bagikan
Sumber: indonesiadefense.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks