SENTANI — Rektor Universitas Jayapura, Bernardikus Patrick Daundi, mengingatkan para wisudawan baru agar tidak hanya terfokus mencari kerja di wilayah kota. Ia menekankan bahwa tantangan nyata dan kebutuhan besar tenaga kesehatan justru berada di wilayah pelosok dan pegunungan Papua.
Pernyataan tersebut disampaikan Bernardikus di sela prosesi wisuda 90 mahasiswa yang berasal dari Program Studi S1 Keperawatan, S1 Farmasi, Profesi Bidan, dan Profesi Ners pada Sabtu (9/5/2026). Ia berharap para lulusan dengan prestasi luar biasa ini bisa langsung mengaplikasikan ilmu mereka ke masyarakat.
Bernardikus menyoroti ketimpangan sebaran tenaga medis yang membuat persaingan kerja di perkotaan menjadi sangat ketat. Menurutnya, kondisi di kota sudah terlalu padat sehingga peluang bagi lulusan baru untuk terserap di fasilitas kesehatan perkotaan semakin kecil.
“Kami berharap mereka juga bisa kembali ke masyarakat mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat. Jangan selalu terkumpul di kota. Mereka juga mau membantu masyarakat, saudara-saudara di pedalaman, karena di pedalaman ini mereka lebih dibutuhkan,” tegas Bernardikus.
Ia menambahkan bahwa di wilayah perkotaan, tenaga kesehatan sudah melimpah bahkan ada yang sampai menganggur. Sebaliknya, wilayah seperti Papua Pegunungan atau titik perkampungan di Kabupaten Jayapura masih kekurangan tenaga medis.
“Kalau mereka pergi ke Papua Pegunungan atau Kabupaten Jayapura yang sedikit ke arah perkampungan, peluang kerjanya lebih besar,” katanya lagi.
Momen wisuda kali ini memiliki catatan sejarah tersendiri bagi lembaga pendidikan tersebut. Ini merupakan prosesi wisuda pertama sejak kampus resmi berubah bentuk dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) menjadi Universitas Jayapura pada 12 Desember 2024 lalu.
Perjalanan kampus ini dimulai sejak tahun 2009 saat masih berstatus STIKES dengan lokasi pertama di Caravan. Pada tahun 2017, operasional kampus pindah ke Jalan Yomake, Tabita, hingga akhirnya mengantongi SK perubahan status menjadi universitas di penghujung tahun 2024.
“Dulu kami STIKES, berdiri 2009. Status sekolah tinggi kesehatan itu sampai 2024, bulan Desember tanggal 12, SK perubahan bentuk ke universitas keluar. Jadi sekarang kami statusnya universitas,” jelas Bernardikus.
Meski secara keseluruhan kampus telah menggelar 12 kali wisuda sejak tahun 2012, namun seremoni kali ini menjadi tonggak awal bagi mereka sebagai institusi universitas di tanah Papua.
Selain memberikan pesan kepada lulusan, pihak universitas juga mendorong pemerintah daerah untuk lebih terbuka dalam memberikan informasi mengenai kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM). Bernardikus berharap ada sinergi yang lebih kuat antara akademisi dan birokrasi, terutama terkait peluang kerja bagi anak-anak Papua.
“Kami juga butuh informasi kira-kira ada peluang tenaga kontrak di daerah, biar mereka juga bisa tahu,” ujarnya.
Pihak kampus menyatakan kesiapannya untuk dilibatkan dalam berbagai program daerah. Selama ini, Universitas Jayapura telah menjalankan program pengabdian masyarakat secara mandiri melalui Tridharma Perguruan Tinggi, mulai dari sosialisasi kesehatan hingga pemberian bantuan di kampung-kampung.
“Kalau bekerja sama dengan pemerintah mungkin lebih baik karena mereka punya tenaga-tenaga yang biasa turun ke lapangan. Kalau kita mahasiswa dan dosen menghabiskan banyak waktu di kampus. Jadi memang kita butuh ada informasi. Kalau dari pemerintah daerah butuh buah pikiran, kami siap memberikan buah pikiran dari sudut pandang akademisi,” pungkasnya.