SENTANI — Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep menemui kelompok anak muda di tepian Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, untuk memetakan tantangan pengembangan ekonomi kreatif di tanah Papua. Kunjungan yang berlangsung dalam suasana informal ini bertujuan menyerap aspirasi langsung dari pelaku usaha rintisan di tingkat lokal.
Kaesang memilih menanggalkan protokol kaku demi membangun dialog yang lebih cair dengan para milenial dan Gen Z setempat. Diskusi yang mengalir di pinggir danau tersebut menyentuh berbagai persoalan mendasar, mulai dari kendala modal usaha mikro hingga akses peluang yang selama ini dianggap masih sulit dijangkau oleh pemuda di daerah.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pemuda Papua berbagi cerita mengenai unit usaha yang tengah mereka bangun secara mandiri. Mereka menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan agar produk lokal dari Jayapura mampu menembus pasar yang lebih luas dan bersaing di level nasional.
Kaesang lebih banyak memosisikan diri sebagai pendengar untuk mencatat poin-poin krusial dari keresahan generasi muda. Tidak hanya soal ekonomi, percakapan juga berkembang ke arah peran pemuda dalam pembangunan daerah. Banyak dari mereka yang ingin berkontribusi lebih luas namun seringkali terbentur minimnya ruang kolaborasi yang disediakan oleh pemangku kebijakan.
Suasana akrab berlanjut saat rombongan bertolak menyusuri perairan Danau Sentani menggunakan perahu. Di atas perahu, Kaesang bersama para kader dan pemuda setempat larut dalam obrolan tanpa jarak hierarki, mencerminkan gaya politik yang ingin diusung oleh PSI di wilayah timur Indonesia.
Pendekatan ini dianggap sebagai refleksi arah partai yang ingin memberikan rasa kepemilikan bagi generasi muda dalam proses pengambilan keputusan politik. Melalui momen di Danau Sentani ini, PSI ingin menegaskan bahwa politik tidak harus selalu bersifat elitis, melainkan harus hadir secara relevan dan menyentuh persoalan nyata di tengah masyarakat.
Menjelang matahari terbenam, kunjungan diakhiri dengan komitmen untuk terus membuka ruang dialog yang setara. Langkah ini diharapkan mampu mematahkan kebuntuan komunikasi antara tokoh nasional dan masyarakat daerah, sekaligus membangun optimisme baru bagi kemajuan pemuda di tanah Papua.