WASIOR — Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama memulai langkah konkret untuk menghidupkan kembali situs-situs rohani bersejarah yang tersebar di sejumlah pulau. Bupati Elysa Auri menegaskan bahwa pemugaran ini bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan menghidupkan kembali fungsi spiritual dan edukatif dari peninggalan para misionaris tersebut.
Setidaknya ada tujuh lokasi yang menjadi prioritas pemda. Mulai dari Situs Aitumeiri di Miei Wasior yang sudah mulai direvitalisasi sejak 2023, makam dan bekas rumah misionaris Franz Mosche di Pulau Roswar, hingga Alkitab Tua serta benda peninggalan misionaris G.L Bink dan Rudolf Beyer di Pulau Roon. Selain itu, Situs Kamadiri di Windesi dan Tugu Pendaratan Injil di Kaibi juga masuk dalam rencana induk.
Pemkab telah menggandeng konsultan dari Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua untuk melakukan survei pada Februari 2026 lalu. Hasil survei itu akan menjadi dasar penyusunan masterplan revitalisasi. "Kami mendorong agar situs-situs ini memiliki fungsi yang hidup. Bukan hanya dilihat tapi dirasakan. Bukan hanya dikunjungi tapi dimaknai," kata Bupati Elysa Auri dalam perayaan syukur HUT Pekabaran Injil di Pulau Roon.
Bupati berharap situs-situs religi di Wondama ke depan menjadi ruang refleksi bagi umat dan tempat penguatan nilai-nilai iman. Ia menekankan pelestarian tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Sinergi antara gereja, masyarakat adat, dan pemerintah daerah menjadi kunci. "Setiap langkah pembangunan dan pemugaran harus tetap menghormati nilai-nilai budaya, menjaga keaslian sejarah, dan memperkuat makna spiritual," pesannya.
Dukungan regulasi juga tengah digodok. DPR Kabupaten Teluk Wondama telah menginisiasi Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah. Raperda ini antara lain mengatur perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan objek budaya, termasuk situs-situs rohani bersejarah yang tersebar di banyak tempat di Wondama.
Langkah ini menjadi penting mengingat Teluk Wondama menyimpan jejak panjang penyebaran Injil di Tanah Papua. Dengan revitalisasi yang terencana, situs-situs ini diharapkan tidak hanya menjadi monumen bisu, tetapi benar-benar menjadi ruang hidup yang memperkuat iman dan identitas budaya masyarakat setempat.