PAPUA — Keputusan MSCI Inc mengumumkan rebalancing indeks saham menciptakan tekanan jual pada Bursa Efek Indonesia sejak pembukaan pagi ini. Dalam pengumuman Selasa (12/5) waktu setempat, MSCI mengeluarkan lima saham dari Global Standard Index dan 13 dari Small Cap Index, dengan efektif mulai 1 Juni 2026.
Saham-saham yang tersisir dari indeks acuan investor global tersebut mencakup PT Amman Mineral Internasional (AMMN), PT Barito Renewables Energy (BREN), PT Chandra Asri Pacific (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya (AMRT). Pada pembukaan pagi, CUAN menjadi saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi, disusul GOTO, ANTM, BRPT, dan BUMI.
Elandry Pratama, analis Panin Sekuritas, menyebut pengumuman MSCI akan memicu respons negatif yang terukur hingga tanggal implementasi perubahan indeks. "Keluarnya saham-saham dengan kapitalisasi besar yang selama ini menjadi target utama dana asing pasif akan memicu forced selling dari fund manager global," ujar Elandry kepada Katadata, Rabu (13/5).
Tekanan jual diperkirakan akan berlanjut hingga menjelang 1 Juni 2026, terutama dari passive funds dan exchange traded funds (ETF) yang wajib menyesuaikan komposisi portofolio sesuai dengan perubahan MSCI. Menurut Elandry, potensi dana asing yang keluar dapat mencapai ratusan juta dolar AS secara bertahap, meski volume pasti baru terlihat dalam hitungan minggu ke depan.
Keputusan MSCI juga memperkuat persepsi bahwa bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets terus menyusut. Kondisi ini tidak hanya memicu arus keluar jangka pendek, tetapi juga menurunkan visibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.
Dalam beberapa tahun terakhir, investor asing dinilai semakin selektif terhadap pasar negara berkembang yang mengalami penurunan likuiditas dan memiliki persoalan tata kelola. Sentimen ini sejalan dengan tren global di mana negara-negara berkembang dengan fundamental lemah menjadi pilihan kedua investor internasional.
Volume transaksi pagi ini tercatat 520 juta saham dengan nilai transaksi Rp 290,312 miliar. Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi menguji level 6.700 dalam jangka pendek seiring dengan tekanan forced selling.
"Pengumuman rebalancing MSCI Mei 2026 ternyata lebih banyak saham yang dikeluarkan dari perkiraan pasar sebelumnya," tulis Phintraco dalam pernyataan tertulis. Sentimen rebalancing juga terjadi mendekati libur panjang, yang biasanya meningkatkan volatilitas pasar.
Meski tekanan jangka pendek dipastikan, Elandry melihat peluang rebound teknikal setelah forced selling mereda. "Setelah tekanan jual teknikal selesai, saham-saham yang fundamentalnya masih solid berpotensi mengalami rebound," kata Elandry.
Investor disarankan lebih selektif memilih saham yang likuid, memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, dan minim risiko outflow lanjutan. Strategi defensif dipandang tepat dalam periode volatilitas ini hingga pasar menyesuaikan diri dengan komposisi indeks MSCI yang baru.