PAPUA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (29/9/2026) di level 6.121, turun 0,43% dari posisi sebelumnya. Tekanan datang dari saham teknologi, properti, dan energi yang masing-masing tertekan hingga 3,36%, 1,31%, dan 1,09%. Nilai transaksi harian tercatat Rp13,23 triliun dengan volume 38,33 miliar saham.
Sepanjang sesi, IHSG nyaris menyentuh titik terendah harian di 6.013. Level tertinggi intraday sempat tersentuh di 6.150 pada siang hari sebelum indeks berbalik arah dan ditutup mendekati dasar.
Tekanan jual yang masif tercermin dari frekuensi transaksi yang mencapai 1,8 juta kali. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 373 saham melemah, 303 saham menguat, dan 118 saham stagnan.
Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam di antara tiga sektor yang menjadi pemberat utama IHSG. Koreksi 3,36% di sektor ini mengindikasikan tekanan jual yang terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar maupun menengah.
Sektor properti menyusul dengan pelemahan 1,31%, sementara sektor energi turun 1,09%. Kombinasi ketiga sektor ini cukup untuk menyeret indeks ke zona merah meski sebagian saham lain masih mampu bertahan di teritori positif.
Meski indeks melemah, aktivitas perdagangan tergolong ramai. Volume perdagangan mencapai 38,33 miliar saham dengan nilai transaksi Rp13,23 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 1,8 juta kali.
Dominasi saham yang melemah — 373 berbanding 303 yang menguat — menunjukkan sentimen jual masih mendominasi pasar. Sebanyak 118 saham lainnya tidak bergerak dari posisi sebelumnya.
IHSG membuka perdagangan dengan kecenderungan melemah sebelum sempat menyentuh level 6.150 pada siang hari. Namun, tekanan jual kembali menguat dan mendorong indeks turun mendekati level terendah harian 6.013.
Penutupan di 6.121 menandakan indeks gagal mempertahankan sebagian besar penguatan intraday. Posisi ini mencerminkan keraguan pelaku pasar terhadap prospek jangka pendek, terutama di sektor-sektor yang paling tertekan.
Pelemahan yang dipimpin sektor teknologi dan properti bisa menjadi sinyal rotasi sektoral. Investor umumnya mencermati apakah tekanan ini bersifat sementara atau berlanjut ke sesi berikutnya.
Nilai transaksi yang tetap tinggi di tengah penurunan indeks menunjukkan masih ada likuiditas yang cukup di pasar. Namun, komposisi saham yang melemah jauh lebih banyak dari yang menguat menjadi catatan tersendiri bagi pelaku pasar.