PAPUA — Rupiah berpotensi kembali terkoreksi di perdagangan pasar spot seiring tekanan harga minyak dunia yang bertahan di atas US$102 per barel dan indeks dolar AS yang masih perkasa di level 101,9. Pergerakan ini membayangi mata uang Garuda setelah sempat menguat pada akhir pekan lalu.
Tekanan datang dari dua sisi sekaligus. Harga minyak mentah Brent bergerak di kisaran US$102,33 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) relatif melandai di US$90,57 per barel. Di saat yang sama, indeks dolar AS bertahan di level 101,9, mencerminkan permintaan aset safe haven yang belum surut.
Kombinasi keduanya menjadi kombinasi buruk bagi negara net importir minyak seperti Indonesia. Harga minyak yang tinggi memperlebar defisit neraca dagang migas, sedangkan dolar yang kuat memperbesar kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor.
Persediaan minyak dunia terkuras tajam dan disebut berada di level terendah dalam lima tahun terakhir. Kondisi itu membuat harga minyak sulit turun meski berbagai upaya intervensi pasar dilakukan.
Pelaku pasar juga masih mencermati risiko eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan yang belum selesai dinilai bisa kembali memanas secara tak terduga, sehingga premi risiko geopolitik tetap melekat pada harga minyak.
Negara-negara G7 yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Prancis bersama mitranya berencana melepas hingga 100 juta barel cadangan darurat minyak dan diesel. Rencana pelepasan cadangan itu diumumkan pada Jumat (2/10/2026).
Langkah tersebut nyatanya tidak memberikan sentimen positif bagi pasar. Harga minyak tetap melambung karena kekhawatiran pasokan jangka pendek masih mendominasi.
Pemicu terbaru datang dari konflik di Timur Tengah. Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan operasi militer untuk merebut seluruh wilayah yang berada di bawah kendali kelompok Houthi yang didukung Iran.
Bagi investor, kombinasi minyak tinggi dan dolar kuat biasanya menekan permintaan obligasi negara berdenominasi rupiah. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi naik seiring aksi jual dari investor asing yang beralih ke aset dolar.
Tekanan terhadap rupiah juga berdampak langsung ke pelaku usaha yang memiliki utang valuta asing. Biaya pembayaran pokok dan bunga utang dalam dolar otomatis membengkak saat rupiah melemah.
Importir bahan baku dan barang konsumsi menjadi kelompok paling rentan. Mereka harus menyiapkan dana rupiah lebih besar untuk membeli dolar dengan nilai transaksi yang sama.
Pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada dua variabel utama: arah harga minyak dan dinamika indeks dolar AS. Selama keduanya belum menunjukkan tanda-tanda mereda, ruang penguatan rupiah tetap terbatas.
Bank Indonesia diperkirakan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valas dan pembelian SBN di pasar sekunder menjadi instrumen yang lazim digunakan untuk meredam gejolak.
Investor disarankan mencermati data cadangan devisa dan posisi transaksi berjalan dalam beberapa pekan ke depan. Kedua indikator itu menjadi cermin seberapa besar tekanan eksternal yang harus diserap rupiah.