Base G hingga Doc II: Jejak Pangkalan Militer AS di Kota Jayapura Era Perang Pasifik

Penulis: Saiful  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 11:17:02 WIB
Panglima Sekutu Jenderal Douglas MacArthur menerapkan strategi loncat katak dari Lae menuju Hollandia dengan kode Base G.

JAYAPURA — Pangkalan militer utama Angkatan Darat Amerika Serikat di Papua Nugini selama Perang Dunia Kedua akhir 1943 didirikan di Finschhafen, sekitar 80 kilometer sebelah timur Kota Lae, di Semenanjung Huon. Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu Kawasan Pasifik Barat Daya Jenderal Douglas MacArthur kemudian menerapkan strategi loncat katak dengan melewati Vanimo menuju Hollandia, nama lama Kota Jayapura, dan memberi kode Base G.

Dari Base F di Lae, pasukan Sekutu melompat ke Hollandia Base G, lalu ke Biak sebagai Base H, dan berlanjut ke Teluk Leyte serta Manila di Filipina. Nama Base G masih melekat dan tercatat dalam sejarah Kota Jayapura, meski Pemerintah Kota Jayapura memasukkan wilayah administrasinya menjadi Tanjung Ria.

Base G Jadi Pusat Latihan Terjun Payung Sekutu

Di era Perang Dunia Kedua, wilayah Base G terdapat tempat latihan parasut bagi militer Sekutu AS. Kini lokasi itu menjadi SPN Polda Papua dan beberapa klinik.

"Lokasi Base G ini menjadi tempat asrama dan pusat latihan terjun payung bagi tentara Sekutu Amerika Serikat, SOP 'School tot Opleiding van Parachutisten'," tulis Arnold Mampioper dalam buku Jayapura Ketika Perang Pasifik.

Doc IX hingga Doc II: Jejak Pelabuhan Angkatan Laut AS

Dari Base G, militer AS membangun dermaga untuk pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat, mulai dari Doc IX, Doc VIII, Doc VI, Doc V, Doc IV sampai Doc II. Sebelumnya, pelabuhan di daerah itu dibangun Tentara Jepang sejak 19 April 1942 dengan mengambil alih tanah adat orang Kayu Pulo.

"Sebenarnya yang membangun pelabuhan Angkatan Laut di daerah ini adalah Tentara Jepang sejak 19 April 1942 dengan mengambil alih tanah adat orang Kayu Pulo untuk membangun pelabuhan dengan mandor orang asli Papua yaitu Tete Melky Taime," kata Rudy Mebri, anggota DPR Kota Jayapura Fraksi Otsus.

Menurut Mebri, saat pelabuhan Jepang direbut Sekutu Amerika Serikat pada April 1944 melalui Operasi Reckless, barulah pelabuhan itu dikenal dengan nama Doc II, Doc IV, Doc V, Doc VII, Doc VIII, dan Doc IX. Sekutu juga membangun markas Marinir Amerika Serikat di Santa Rosa dan Polimac Road, yang kini dikenal sebagai Polimak I, Polimak II, Polimak III, dan Polimak IV.

Di daerah Santa Rosa era 1980-an, anak-anak SMP di Kota Jayapura mencari peneng atau dog tag bekas Perang Dunia Kedua. Dog tag adalah kalung identitas militer resmi yang dipakai tentara Amerika Serikat dan Sekutu untuk mengidentifikasi personel yang terluka atau tewas di medan perang. Di kawasan itu masih tersimpan peluru dan sisa bom era Perang Dunia Kedua yang ditemukan warga sekitar.

APO dan Peran Women's Army Corps di Hollandia

Setelah menduduki Hollandia sejak April–Mei 1944, militer AS mendirikan bangunan untuk Army Post Office (APO), tempat sortir surat dari pasukan Amerika Serikat untuk keluarga mereka di New York, Kansas, dan sejumlah negara bagian lain.

Women's Army Corps (WAC), yang sebelumnya bernama WAAC dan berganti nama pada pertengahan 1943, memiliki peran penting dalam operasional pangkalan militer Sekutu di Hollandia, Nugini Belanda. Ketika komando Jenderal MacArthur pindah ke Hollandia setelah wilayah itu direbut dari Jepang pada pertengahan 1944, ribuan personel wanita dari unit 5222nd WAC Detachment dikirim ke sana untuk menangani urusan administratif, keuangan, logistik, dan layanan komunikasi pos.

Dikutip dari blackdiamondmuseum.org, tugas utama WAC di pos militer Hollandia adalah menggantikan posisi administratif dan klerikal yang sebelumnya dipegang tentara pria. Dengan begitu, ribuan prajurit pria dapat dialihkan ke garis depan untuk invasi ke Filipina.

Karena wilayah Hollandia dikelilingi hutan belantara dan dipadati ratusan ribu tentara pria yang sudah lama tidak melihat wanita Amerika, markas kediaman WAC di Hollandia dipagari ketat kawat berduri. Para personel wanita dilarang meninggalkan area kompleks kecuali dalam tugas dinas resmi atau di bawah pengawalan bersenjata demi keamanan mereka.

Surat Marie Lou: Hidup di Bawah Ancaman Serangan Udara

Marie Lou, salah seorang anggota WAC yang bertugas di APO Hollandia, menulis surat kepada ibunya di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Lagu "Silent Night" menggema di malam yang gelap gulita karena peringatan serangan udara yang berulang.

Dalam surat ke rumah tertanggal 29 Desember 1944, Mary Lou menulis dengan optimistis bahwa tenda dan kantor mereka tidak berlantai. Saat itu musim hujan, dan matahari hanya muncul dua kali sejak mereka berada di sana, yang sebentar lagi akan genap seminggu. Lumpur sangat dalam, dan kondisi hidup sangat sulit. Mereka tinggal di perkebunan kelapa yang indah, dengan laut hampir berada di dekatnya.

Reporter: Saiful
Sumber: jubi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top