SENTANI — Asisten II Setda Kabupaten Jayapura Abdul Rahman Basri membuka kegiatan mewakili Bupati Jayapura Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H. Turut hadir Kepala DPM-PTSP Gustaf Griapon, perwakilan Bank Indonesia, OJK Papua, Bursa Efek Indonesia Papua, Telkomsel, BPJS Ketenagakerjaan, dan Ketua Yayasan STIPER.
Basri menegaskan program ini bukan sosialisasi seremonial. Menurutnya, kegiatan ini ruang membangun pola pikir generasi muda agar ikut mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
"Mahasiswa bukan hanya masa depan Jayapura, tetapi juga bagian dari pembangunan hari ini. Saya mengajak mahasiswa untuk tidak hanya berpikir setelah lulus mencari pekerjaan, mulai berpikir apa yang dapat saya ciptakan, usaha apa yang dapat saya bangun," ujar Basri membacakan sambutan Bupati.
Kabupaten Jayapura memiliki potensi besar di pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif. Sektor-sektor itu membutuhkan generasi muda yang kreatif dan melek teknologi.
"Khusus kepada mahasiswa STIPER, saya berharap ilmu praktik yang diperoleh dapat dikembangkan menjadi usaha dan inovasi. Jangan hanya menjual hasil dalam bentuk bahan mentah, tetapi kembangkan produk olahan, manfaatkan teknologi, gunakan pemasaran digital, dan bangun agribisnis," katanya.
Basri mengajak mahasiswa mengenal Online Single Submission (OSS) dan Nomor Induk Berusaha (NIB). Kreativitas membangun usaha, katanya, harus berjalan bersama pemahaman terhadap aturan.
"Dalam membangun usaha, kreativitas harus berjalan bersama pemahaman terhadap aturan. Kenali OSS, pahami NIB dan jangan ragu berkonsultasi dengan DPM-PTSP. Pemerintah harus hadir memberikan layanan yang mudah, cepat, transparan dan memberikan kepastian," tuturnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar cerdas mengelola keuangan dan tidak terjebak investasi ilegal. Pesannya: kenali lembaga, pahami produk, pelajari risiko, dan pastikan legalitas.
"Jangan mudah tergoda keuntungan besar dalam waktu singkat. Kenali lembaganya, pahami produknya, pelajari risikonya, dan pastikan legalitasnya. Jangan berinvestasi karena ikut-ikutan, tetapi berinvestasilah karena memahami," tegasnya.
Kepala DPM-PTSP Kabupaten Jayapura Gustaf Griapon memastikan program Go To Campus berkelanjutan. Dari tujuh perguruan tinggi yang ada, dua kampus menjadi fokus tahun ini, sedangkan lima kampus lain masuk pada tahun depan.
"Tahun ini kita akan fokus dari tujuh perguruan tinggi yang ada, ada dua yang akan kita fokus. Tahun depan kita baru masuk di lima perguruan tinggi lagi," ujar Gustaf.
Tujuan utamanya mensosialisasikan tupoksi DPM-PTSP sekaligus mendampingi mahasiswa yang punya potensi bisnis hingga mengantongi NIB. DPM-PTSP juga akan mendata mahasiswa berpotensi usaha dan menjembatani mereka dengan mitra terkait.
"Kami akan data mahasiswa yang punya potensi bisnis ini, kita dorong sampai mereka punya Nomor Induk Berusaha. Dan mungkin kita bisa menjadi hubungan antara mereka dengan mitra-mitra lain. Ke depan target kita juga bisa masuk ke SMK-SMK yang ada di Kabupaten Jayapura," jelasnya.
Ketua STIPER Santo Thomas Aquinas Jayapura Dr. Sellvia Tharukliling, S.Pt., M.P., mengapresiasi kepercayaan Pemkab Jayapura memilih kampusnya sebagai kick-off perdana. Menurutnya, STIPER punya mahasiswa potensial sebagai calon entrepreneur di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan.
"Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura karena sudah memilih STIPER sebagai kick-off pertama. Kami memiliki mahasiswa yang potensial sebagai calon entrepreneurship di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan," ujar Sylvia.
Kehadiran mitra seperti OJK, BI, BEI, Telkomsel, dan BPJS Ketenagakerjaan dinilai membuka wawasan mahasiswa yang selama ini terasa jauh. Banyak mahasiswa STIPER sudah punya embrio bisnis meski skala kecil.
"Banyak mahasiswa kami sudah punya embrio bisnis meski skala kecil. Harapannya wawasan mereka terbuka dan bisa difasilitasi, karena mereka adalah anak-anak Papua pemilik masa depan. Mereka harus diajarkan sejak dini bagaimana berbisnis yang legal," tutupnya.