Karhutla Papua Hanguskan Puluhan Ribu Hektare, Warga Merauke Sesak Napas dan Sulit Air Bersih

Penulis: Fajar  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 16:16:31 WIB
Kabut asap karhutla menyelimuti permukiman warga di Merauke, Papua Selatan, selama lebih dari sebulan.

MERAUKE — Kabut asap dari karhutla di Papua Selatan telah menyelimuti permukiman warga selama hampir sebulan lebih, sejak sekitar Agustus 2026. Sebaran asap bahkan terdeteksi hingga Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya, sebagian kecil Papua seperti Jayapura, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. Pola pergerakan angin dari timur menuju barat laut hingga utara membuat asap menyebar lintas provinsi.

Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Senin (12/10), menerima laporan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto bahwa luas karhutla "hanya tersisa" 639,23 hektare di enam provinsi. Enam provinsi yang dimaksud tidak termasuk wilayah di Tanah Papua.

Asap Pekat Bikin Warga Batuk dan Kesulitan Air

Yonas, warga Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, mengatakan asap masih tebal dan mulai banyak warga yang batuk karena polusi. Warga juga semakin sulit mendapatkan air bersih.

"Asap masih tebal, mulai banyak yang batuk di sini karena polusi. Sudah susah juga mendapatkan air. Tahun-tahun lalu itu pernah juga tapi tidak terlalu. Ini sampai masyarakat setengah mati," kata Yonas saat dihubungi Senin (12/10).

Di tengah kabut asap, warga tetap harus keluar mencari air bersih yang jaraknya bisa mencapai delapan kilometer. Ada yang menempuh perjalanan dengan sepeda motor, ada pula yang berjalan kaki sambil memikul jerigen air. Selain air, warga mencari pasokan sagu karena sejumlah kebun ikut terbakar.

Jarak Pandang Cuma 200 Meter, Anak-Anak Tetap Sekolah

Vincen dari Distrik Jagebob, Merauke, menyebut titik api mulai terlihat sekitar Agustus lalu dan terus bertambah hingga sekarang. Ia menggambarkan asap makin hari kian pekat, dengan jarak pandang hanya sekitar 200 meter.

"Jarak pandang itu hanya 200 meter saja. Kalau malam itu sudah tidak bisa. Puncaknya (asap tebal) memang di bulan Oktober ini," ucapnya.

Gejala batuk dan gangguan pernapasan mulai terasa di sekitar permukiman, terutama pada anak-anak. Warga tetap beraktivitas dengan berbekal masker, dan anak-anak tetap berangkat sekolah karena tidak ada imbauan belajar dari rumah akibat asap.

Vincen juga merasakan udara makin panas, bahkan saat malam hari. Kebun pisang, karet, dan sagu miliknya ikut terbakar saat api meluas.

"Dulu itu, sejuk pada pagi hari atau sore hari, apalagi malam. Sekarang, sekitar jam 2-3 malam itu puncak suhu panas terasa sekali di tubuh itu. Tidur tidak nyaman. Hari-hari juga tidak terasa angin, kalau dapat angin itu sudah rezeki," kata Vincen.

Titik Api Diduga Berasal dari Areal Konsesi dan Proyek Strategis Nasional

Merujuk kesaksian warga dan temuan berbagai organisasi lingkungan serta lembaga hukum, kebakaran di Papua sudah berlangsung hampir satu bulan lebih. Titik api disebut berasal dari areal-areal yang digusur perusahaan dan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 8 Tahun 2023, lebih dari dua juta hektare di Kabupaten Merauke ditetapkan sebagai salah satu sasaran PSN. Kawasan ini menjadi pusat pengembangan pangan dan energi (food estate) serta perkebunan tebu dan padi. Wilayah PSN itu mencakup Distrik Jagebob, Tanah Miring, Sota, Eligobel, Ulilin, Malind, Kurik, Ilwayab, dan Animha.

"Saya lihat sampai sekarang, kebakaran semakin hebat dan kebanyakan titik-titiknya itu ada di daerah konsesi perkebunan kelapa sawit maupun di lokasi-lokasi Proyek Strategis Nasional," ujar Franky Samperante dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat.

BBC telah menghubungi Kementerian Pertahanan yang menjadi salah satu pelaksana PSN di Papua Selatan. Namun mereka tidak memberikan tanggapan hingga berita ini diturunkan.

Hutan Makin Habis, Kebakaran Dinilai Lebih Parah dari Tahun Sebelumnya

Vincen menyebut karhutla pada musim kering berulang kali terjadi di Merauke, termasuk di sekitar tempat tinggalnya. Namun pada tahun ini, dengan tutupan hutan yang makin berkurang akibat operasional perusahaan yang masif, ia menilai kebakaran dan dampaknya lebih parah.

"Kami yang hidup bertahun-tahun semasa hutan masih utuh, ada musim panas yang kami bilang musim panas keras, tapi tidak seperti yang ini," ujarnya.

"Ini lebih keras lagi karena hutan itu tidak ada," kata Vincen.

Reporter: Fajar
Sumber: bbc.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top