Pencarian

Ikan Endemik Danau Sentani Makin Langka, Red Devil Kuasai 70 Persen Hasil Tangkapan

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 13:46:31 WIB
Ikan Endemik Danau Sentani Makin Langka, Red Devil Kuasai 70 Persen Hasil Tangkapan
Ikan louhan merah mendominasi hasil tangkapan nelayan di Danau Sentani, Jayapura.

SENTANI — Warga Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, mengaku kesulitan mendapatkan ikan asli Danau Sentani dalam beberapa tahun terakhir. Ikan berwarna merah seukuran jari orang dewasa yang memenuhi pinggiran danau bukan lagi jenis asli yang dulu mereka tangkap.

Yanpit Wally, Ondofolo atau Kepala Suku Adat Besar Kampung Nendali, mengatakan ikan louhan merah telah mengubah lanskap perairan danau secara drastis. "Setelah ikan-ikan baru seperti ikan louhan itu masuk ke danau, hampir semua ikan asli kita terdesak. Sekarang tidak kelihatan lagi dan jarang sekali dapatkan," katanya.

Nelayan Beralih ke Kebun, Tradisi Bukhere Hilang

Sebelum populasi ikan pendatang meledak, Yanpit dan warga Sentani menggantungkan hidup sepenuhnya dari mencari ikan. Jumlah tangkapan melimpah hanya dengan alat sederhana. Kini dia beralih ke kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bernard Mebri, pria 77 tahun dari Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura, merasakan hal serupa. Dengan perahu kayu kecilnya, dia mengaku dulu hanya perlu menyelam atau memancing untuk mendapatkan ikan yang cukup bagi keluarga. "Kalau sekarang ini susahnya kita dapat ikan," ujarnya.

Warga Sentani juga mengenal tradisi bukhere, rumah ikan yang dibuat dari kayu, ranting, daun sagu, dan pelepah melingkar yang ditenggelamkan ke dasar danau. Setelah setahun, nelayan memanen ikan dalam jumlah banyak. Tradisi yang diatur adat ini kini menghilang karena ikan makin sulit didapat.

Red Devil Mendominasi, Keanekaragaman Hayati Turun

Penelitian Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Jayapura pada 2016 mengonfirmasi dominasi red devil di Danau Sentani. "Nilai indeks keanekaragaman di perairan danau Sentani pada penelitian ini adalah rendah dan nilai keragamannya sedang," tulis penelitian tersebut.

Riset Universitas Cenderawasih pada 2019 mencatat sekitar 19 jenis ikan di Danau Sentani. Komposisinya meliputi dua ikan endemik, enam ikan asli, satu ikan anadromus, dan 10 ikan introduksi. Sepuluh jenis ikan endemik dan asli yang tercatat antara lain ikan pelangi Sentani, pelangi merah, gabus Sentani, gabus hitam Sentani, snakehead gudgeon, dan gete.

Ikan gete-gete kecil, gete-gete besar, kayou, dan himen termasuk jenis yang kini jarang ditemukan warga. Hilangnya ikan-ikan ini tidak hanya berdampak pada ekonomi nelayan, tetapi juga pada ekosistem danau secara keseluruhan.

Ikan Asli Simbol Adat dan Motif Seni Kulit Kayu

Ikan endemik Danau Sentani memiliki posisi penting dalam struktur sosial Suku Sentani. Ikan gabus hitam besar Sentani, misalnya, menjadi lambang bagi seorang ondofolo. Motif ikan asli juga diukir pada rumah adat, dinding, dan tiang-tiang rumah tradisional.

Yanpit menyebut ikan hiu gergaji menjadi inspirasi utama lukisan kulit kayu khas Sentani. "Motif ikan asli Danau Sentani diukir pada rumah adat, dinding, tiang-tiang rumah tradisional sebagai bagian dari sejarah dan cerita nenek moyang," katanya.

Dia menegaskan kepunahan ikan asli sama artinya dengan hilangnya identitas orang Sentani. "Tapi kita punya ikan-ikan asli ini semua hilang atau punah itu sama saja dengan identitas orang Sentani hilang," ujarnya.

Habitat Tertekan Pembangunan hingga Limbah Domestik

Ancaman terhadap ikan endemik tidak hanya datang dari ikan invasif. Pembangunan di sekitar danau, berkurangnya vegetasi, pendangkalan, aktivitas pertambangan, pencemaran, sampah, dan limbah domestik ikut menekan ekosistem Danau Sentani.

Upaya konservasi membutuhkan perlindungan hukum, riset berkelanjutan, serta kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga penelitian. Tanpa langkah konkret, ikan endemik Danau Sentani berisiko hilang permanen dari perairan yang menjadi rumah mereka selama ribuan tahun.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mongabay.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks