JAKARTA — Noor Azhari menyampaikan pandangan itu dalam Diskusi Publik bertajuk "Mengapa Eskalasi Konflik Papua Selalu Memanas?" yang digelar di Jakarta Timur. Menurut dia, persoalan Papua tidak boleh dibaca semata-mata sebagai gangguan keamanan.
Kekerasan bersenjata memutus akses pendidikan, kesehatan, dan perdagangan warga. Ikatan sosial di tengah masyarakat ikut rusak akibat konflik yang berkepanjangan.
Ukuran Keberhasilan Bukan Sekadar Berkurangnya Kontak Senjata
Noor menegaskan keberhasilan penanganan konflik tidak cukup diukur dari berkurangnya kontak senjata. Indikator yang lebih mendasar adalah pulihnya rasa aman dan berjalannya layanan dasar bagi warga.
Kepercayaan warga terhadap negara juga menjadi ukuran penting. Menurut dia, indikator perdamaian yang sesungguhnya adalah kehidupan yang kembali normal di kampung-kampung.
"Damai hanya mungkin jika perlindungan warga, pelayanan publik, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap kearifan lokal berjalan seiring," ujarnya.
Pendekatan Keamanan Perlu Disertai Akuntabilitas
Pendekatan keamanan tetap dibutuhkan, tetapi harus disertai perlindungan warga sipil. Akuntabilitas dan penghormatan terhadap budaya setempat menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan.
Di saat yang sama, pembangunan harus hadir secara nyata. Noor menyebut pendidikan, kesehatan, pangan, air bersih, konektivitas, dan penguatan ekonomi lokal sebagai bidang yang perlu diprioritaskan.
"Pembangunan tidak dapat tumbuh di atas rasa takut; keamanan tidak akan bertahan tanpa manfaat yang dirasakan rakyat," tegasnya.
Ia menggambarkan keamanan dan pembangunan sebagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Keduanya harus berjalan bersamaan, bukan bergantian.
Tokoh Adat hingga Pemuda Diminta Jadi Pilar Perdamaian
Penanganan konflik juga perlu melibatkan banyak pihak di tingkat akar rumput. Tokoh adat, gereja, kepala kampung, perempuan, pemuda, pemerintah daerah, hingga akademisi disebut sebagai pilar perdamaian dari bawah.
Menurut Noor, pendekatan penanganan konflik harus bergeser dari sekadar merespons kejadian. Pencegahan melalui pemetaan risiko, deteksi dini, dan pemulihan masyarakat terdampak dinilai lebih penting.
Pembangunan kepercayaan yang berkelanjutan juga menjadi bagian dari strategi itu. Semua pihak diminta bergerak bersama, bukan sendirian.