Pencarian

REAL Jajaki Akuisisi Data Center, WIFI Lanjutkan Capex Rp 7 Triliun

Kamis, 08 Oktober 2026 • 08:51:01 WIB
REAL Jajaki Akuisisi Data Center, WIFI Lanjutkan Capex Rp 7 Triliun
Penandatanganan MoU akuisisi data center antara REAL dan HIGEN berlangsung pada 6 Oktober 2026.

PAPUA — PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) menandatangani nota kesepahaman dengan Quanta Tunas Abadi (HIGEN) untuk menjajaki akuisisi di sektor data center dan managed service. Sementara itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mempertahankan rencana belanja modal sekitar Rp 7 triliun pada 2026, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menyiapkan dividen interim Rp 14,50 per saham.

Langkah REAL itu dilakukan melalui anak usaha terkendalinya, Repower Global Sinergitama (RGST). Penandatanganan MoU berlangsung pada 6 Oktober 2026, menjadi tahap awal sebelum perseroan memutuskan apakah akan melanjutkan ke aksi akuisisi penuh.

Bisnis data center dipilih seiring pertumbuhan kebutuhan penyimpanan data di Indonesia. Pasar penyimpanan data center nasional diproyeksikan tumbuh rata-rata 13,80% per tahun, dari sekitar USD 896,30 juta pada 2026 menjadi USD 1,95 miliar pada 2031.

Pendorong Pertumbuhan Pasar Data Center Nasional

Pertumbuhan itu ditopang masuknya investasi asing, kebutuhan lokalisasi data, serta dukungan regulasi seperti PP No. 71/2019. Bagi REAL, sektor ini membuka peluang mengembangkan bisnis di luar properti yang selama ini menjadi fokus utama perseroan.

Meski begitu, kesepakatan baru sebatas MoU. Dampaknya terhadap kinerja REAL belum dapat dihitung karena perseroan masih perlu memastikan nilai transaksi, sumber pendanaan, kapasitas bisnis, hingga kontrak dengan pelanggan.

WIFI Pertahankan Capex Rp 7 Triliun, Baru Terserap Rp 1 Triliun

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mengandalkan dua layanan utama untuk memperluas jaringan fixed broadband, yakni Fixed Wireless Access (FWA) melalui Internet Rakyat dan Fiber-to-the-home (FTTH). Per 1H26, jumlah pelanggan WIFI tercatat 2,35 juta, dengan target melampaui 3,50 juta pelanggan hingga akhir 2026.

Untuk mendukung ekspansi, WIFI berencana menambah 5.500 radio dengan biaya sekitar USD 30.000 per unit, serta modem ZTE sekitar USD 50 per unit. Sekitar Rp 1 triliun dari capex dialokasikan untuk pengembangan FTTH melalui anak usaha Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE).

Ekspansi FTTH mencakup sekitar 1,50 juta home pass dan home connect, dengan biaya sekitar Rp 750.000 per pelanggan. Hingga semester I 2026, realisasi capex WIFI baru mencapai sekitar Rp 1 triliun. Manajemen menyebut kondisi itu lebih berkaitan dengan waktu penyerapan anggaran, sementara rencana belanja modal tetap berjalan sesuai target.

AMRT Bagikan Dividen Interim Rp 595,83 Miliar

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp 14,50 per saham, dengan total pembagian sekitar Rp 595,83 miliar. Keputusan itu diambil setelah AMRT mencatatkan laba bersih Rp 2,02 triliun pada semester I 2026, naik 7,45% dari Rp 1,88 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan neto AMRT juga meningkat 6,49% secara tahunan menjadi Rp 67,96 triliun pada 1H26. Dividen interim tersebut setara dengan dividend payout ratio 29,50% dari laba bersih semester I 2026.

Pada perdagangan Rabu (7/10), saham AMRT ditutup di level Rp 1.225 per saham. Berdasarkan harga tersebut, dividend yield dari dividen interim berada di sekitar 1,18%.

Jadwal Cum Date dan Pembayaran Dividen AMRT

Investor yang ingin mendapatkan dividen perlu memperhatikan jadwalnya. Cum date di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 13 Oktober 2026, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

IHSG Turun 0,75%, Asing Net Sell Rp 828,65 Miliar

Pergerakan IHSG kembali berakhir di zona merah. Pada perdagangan Rabu (7/10), IHSG turun 0,75% ke level 6.146,72. Sebanyak 10 dari 11 sektor berakhir melemah, dengan sektor Energy turun paling dalam 1,56%. Sektor Technology menjadi satu-satunya yang menguat, meski hanya 0,02%.

Sejumlah saham masih menopang indeks. BBRI naik 0,96%, TLKM menguat 1,32%, dan SMMA bertambah 1,00%. Tekanan datang dari BYAN yang turun 6,69%, BBCA melemah 0,82%, serta DSSA terkoreksi 3,00%.

Investor asing mencatatkan net sell Rp 828,65 miliar di pasar reguler. Di seluruh pasar, nilai net sell asing mencapai Rp 871,36 miliar. Sentimen global juga negatif, dengan Dow Jones turun 0,66% ke 51.179, S&P 500 terkoreksi 0,22% ke 7.801, dan Nasdaq turun 0,22% ke 27.538.

FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market dan tidak memasukkannya ke Watch List. FTSE Russell masih memantau efektivitas reformasi terkait integritas pasar modal dan dijadwalkan memberikan pembaruan menjelang review pada Desember 2026. Indeks offshore Indonesia turut melemah, dengan ETF EIDO turun 0,59% dan MSCI Indonesia turun 0,20%.

Follow papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks