PAPUA — Danantara mulai mengakumulasi saham di Bursa Efek Indonesia saat harga turun akibat IHSG melemah setelah pengumuman MSCI pekan lalu. Chief Investment Officer Pandu Sjahrir menyatakan pembelian menyasar emiten BUMN dengan fundamental dan prospek pertumbuhan baik, dan akan berlanjut selama valuasi dinilai menarik.
Paragraf pembuka: Langkah Danantara itu diambil di tengah tekanan jual yang menekan indeks saham dalam beberapa hari terakhir. Pandu menyampaikan hal itu dalam agenda Media Coffee Morning di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (22/10). Ia menegaskan pembelian tidak dilakukan sekali jalan, melainkan bertahap mengikuti pergerakan harga.
Saham BUMN Jadi Incaran Utama
Pandu menjelaskan, keputusan membeli saham bertumpu pada perhitungan risk-reward yang dinilai cukup menarik saat ini. Saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi kriteria utama karena dinilai punya fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang baik.
“Per kemarin, hari ini, kita sudah mulai membeli saham-saham yang ada, menurut kami atraktif, dan kita akan terus selama harga value itu menarik memiliki prospect yang baik, jadi we want to earn more of some of these shares,” kata Pandu.
Menurutnya, Danantara akan terus menambah kepemilikan pada saham-saham yang dinilai masih murah. Strategi itu dijalankan selama valuasi emiten bersangkutan memberi ruang kenaikan yang memadai.
39 Emiten Pelat Merah dalam Portofolio
Danantara tercatat memiliki 39 saham emiten di portofolionya. Kepemilikan itu dipegang langsung melalui PT Danantara Asset Management maupun lewat anak perusahaan yang digenggam Danantara. Seluruh perusahaan dalam portofolio tersebut merupakan emiten pelat merah.
Secara langsung, Danantara menggenggam saham bank jumbo milik negara seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Saham tambang di bawah holding MIND ID juga masuk portofolio, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Pemerintah sebelumnya telah mengalihkan kendali kepemilikan saham BUMN ke bawah Danantara. Alhasil, saham-saham BUMN di bawah holding BUMN masuk ke portofolio Danantara secara tidak langsung.
Jejak Kepemilikan di Anak Usaha Pertamina
Selain bank dan tambang, Danantara tercatat menggenggam saham anak-anak usaha Pertamina seperti PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), hingga PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Saham seri B Pertamina sebesar 99 persen dikuasai Danantara Indonesia selaku sovereign wealth fund (SWF) Indonesia.
Posisi itu membuat Danantara bukan sekadar pemegang saham pasif, melainkan pemilik kendali atas sebagian besar emiten strategis di pasar modal domestik. Dampaknya terasa langsung ke arah kebijakan investasi BUMN dan likuiditas saham-saham tersebut di BEI.
Mengapa Aksi Borong Ini Penting
Pembelian saham oleh Danantara memberi bantalan bagi harga saham BUMN saat tekanan jual melanda pasar. Bagi investor ritel, kehadiran pembeli besar dengan horizon jangka panjang bisa mengurangi gejolak harga yang berlebihan, terutama pada emiten berkapitalisasi besar.
Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa pengelola investasi negara menilai pelemahan IHSG tidak mencerminkan nilai fundamental emiten BUMN. Pandu menekankan pembelian akan berlanjut selama harga masih memberi nilai yang menarik.
Ke depan, arah akumulasi Danantara akan bergantung pada pergerakan IHSG dan valuasi masing-masing emiten. Pasar akan mencermati apakah langkah ini cukup menahan tekanan jual lanjutan pasca-pengumuman MSCI, sekaligus menguji komitmen Danantara sebagai pembeli jangka panjang di saham-saham pelat merah.