JAKARTA — Pelemahan rupiah pagi ini menjadi yang terdepan di antara mata uang Asia lainnya. Data Bloomberg pukul 09.00 WIB menunjukkan, mayoritas mata uang kawasan juga kompak tertekan. Ringgit Malaysia turun 0,24 persen, dolar Singapura melemah 0,16 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,04 persen. Hanya dolar Hong Kong yang mencatat penguatan tipis 0,03 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut, tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal. Sentimen risk-off melanda pasar global setelah muncul laporan serangan militer terbaru AS ke Iran.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Tekanan tidak hanya dirasakan oleh mata uang Asia. Mata uang utama negara maju juga tercatat kompak melemah terhadap greenback. Euro Eropa turun 0,13 persen, poundsterling Inggris turun 0,19 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,29 persen. Dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing turun 0,10 persen dan 0,20 persen.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih akan berada dalam tekanan. Rentang pergerakan diprediksi cukup lebar, yakni antara Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Level tertinggi di Rp17.900 menjadi batas psikologis yang diwaspadai pelaku pasar.
Jika konflik di Timur Tengah terus memanas tanpa ada tanda-tanda de-eskalasi, tekanan jual terhadap rupiah berpotensi berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan geopolitik sebagai indikator utama pergerakan nilai tukar.