SENTANI — Tiga tahun sudah warga Kampung Kameyakha mengandalkan kekuatan sendiri untuk memiliki rumah layak huni. Tidak ada dana desa, tidak ada bantuan sosial perumahan, apalagi anggaran dari Pemerintah Kabupaten Jayapura. Yang ada hanyalah puluhan pasang tangan yang turun ke hutan, menebang pohon, dan membangun rumah dari nol.
Kepala Kampung Kameyakha, Dorteis Ibo, menuturkan bahwa tradisi gotong royong ini sudah berjalan sebelum dirinya menjabat. “Pembangunan swadaya masyarakat ini memang dari awal tahun 2022-2023 sudah jalan sebelum saya jadi pemerintah kampung. Setelah saya dilantik jadi pemerintah kampung, programnya diangkat lagi dan ini lebih dikuatkan ke masyarakat,” ujarnya di Kameyakha, Jumat (29/5/2026).
Prosesnya sederhana tapi menguras tenaga. Warga yang paham cara menebang dan menyensor kayu menjadi pemandu. Mereka masuk ke hutan, memilih pohon yang kokoh, lalu bersama-sama mengeluarkan batang kayu. Setelah itu, pembangunan dilakukan secara kolektif—dari pondasi, dinding, hingga pemasangan atap.
“Secara swadaya kita kerja. Di mana ada masyarakat yang sudah tahu sensor kayu, kita ke sana juga sensor, dan masyarakat semua bantu keluarkan kayu. Kita datang bangun juga secara swadaya. Nanti terakhirnya termasuk atapnya juga semua dengan swadaya,” jelas Dorteis.
Rumah yang dibangun tidak sembarangan. Pemerintah kampung memprioritaskan warga yang sudah memiliki lahan pribadi. Ada yang dibangun baru hingga layak huni, ada pula yang cukup direnovasi. Bahkan, bagi keluarga muda yang masih tinggal bersama orang tua, kampung membantu membangun rumah terpisah untuk anak mereka.
Dorteis menambahkan, rumah yang dibangun tidak ditentukan khusus, melainkan untuk warga yang sudah memiliki lahan pribadi. Ada yang dibangun baru hingga layak huni, ada pula yang hanya direnovasi. Bahkan bagi keluarga yang masih tinggal bersama orang tua, pemerintah kampung membantu membangun rumah terpisah untuk anaknya.
Meski berjalan mandiri, pemerintah kampung tidak menutup pintu untuk kerja sama dengan pemda. Dorteis mengaku telah mengajukan surat proposal dukungan ke dinas-dinas terkait di Kabupaten Jayapura. “Dengan adanya kegiatan swadaya ini, pemerintah kampung juga mengharapkan dukungan dari pihak-pihak terkait. Surat-surat proposal sudah kita mulai masukkan. Mudah-mudahan ke depan ada perhatian dari dinas-dinas terkait untuk kegiatan swadaya ini,” harapnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Jayapura terkait proposal tersebut.
Ondofolo Yoqa Wafboy Hemor Sperner Ibo, tokoh adat setempat, menegaskan bahwa semangat warga tidak akan surut meskipun perhatian pemda belum ada. “Pembangunan rumah di kampung Kameyakha benar-benar swadaya kami sendiri, dan kami terus akan melakukan pembangunan walaupun tidak dilirik oleh pemerintah Kabupaten Jayapura,” pungkasnya.