Gunung Api Bawah Laut di Utara Papua Nugini Meletus, Ilmuwan Pantau Potensi Lahirnya Pulau Baru di Laut Bismarck

Penulis: Ragil  •  Rabu, 08 Juli 2026 | 21:35:31 WIB
Ilmuwan memantau aktivitas gunung api bawah laut di utara Papua Nugini yang berpotensi membentuk pulau baru.

JAYAPURA — Aktivitas vulkanik bawah laut di Laut Bismarck, tepatnya di utara Papua Nugini, menjadi perhatian para peneliti setelah serangkaian letusan terdeteksi sejak awal Mei 2026. Tim ilmuwan dari berbagai lembaga kini memanfaatkan teknologi satelit canggih untuk memantau perkembangan fenomena alam yang berpotensi melahirkan pulau baru tersebut.

Pemantauan dilakukan menggunakan satelit Aqua dan Terra milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Melalui citra satelit, para ahli dapat mendeteksi semburan uap yang menjulang hingga beberapa kilometer ke atmosfer serta perubahan warna air laut akibat abu dan mineral vulkanik.

Dari Gempa Kecil hingga Tumpukan Material Vulkanik

Gejala awal aktivitas gunung api ini tertangkap pada 8 Mei 2026, saat sensor seismik merekam rentetan gempa bumi kecil di dasar laut. Tak lama berselang, citra satelit memperlihatkan tanda-tanda erupsi di area yang sebelumnya belum terpetakan secara mendetail.

Sejak saat itu, dasar laut secara bertahap mengeluarkan material vulkanik. Endapan lava dan abu vulkanik terus menumpuk dan bergerak menuju permukaan air. Para peneliti menyebut proses ini masih berlangsung dan berpotensi menciptakan daratan baru apabila material yang keluar terus bertambah.

Salah satu tanda yang paling jelas terlihat adalah hamparan batu apung vulkanik, atau yang dikenal dengan istilah pumice rafts, yang mengapung di sekitar lokasi erupsi. Batu apung ini terbentuk dari lava yang mengandung gas dan mendingin dengan cepat, menghasilkan material ringan berpori yang kemudian hanyut mengikuti arus permukaan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Nasib Pulau Baru: Bertahan atau Hilang Terkikis Ombak?

Meski potensi lahirnya pulau baru cukup besar, para ilmuwan belum bisa memastikan apakah daratan tersebut akan bertahan lama atau justru hilang akibat terkikis gelombang laut. Sejarah mencatat, fenomena serupa pernah terjadi di Islandia pada 1963 saat gunung api bawah laut Surtsey meletus dan berhasil membentuk pulau yang masih eksis hingga kini.

Namun, tidak semua pulau vulkanik bernasib sama. Sebagian besar hanya mampu bertahan dalam hitungan bulan, bahkan ada yang lenyap dalam beberapa tahun setelah terbentuk. Kondisi ini mendorong tim peneliti untuk terus melakukan pemantauan secara ketat dan real-time guna mempelajari proses awal terbentuknya pulau vulkanik.

Dengan bantuan teknologi satelit, para ilmuwan kini dapat menganalisis data secara langsung—mulai dari gempa awal, perubahan warna air, hingga potensi munculnya daratan baru. Fenomena langka di Laut Bismarck ini pun menjadi laboratorium alami bagi dunia sains untuk memahami lebih dalam bagaimana bumi menciptakan daratan dari kedalaman laut. (R10/HR-Online)

Reporter: Ragil
Sumber: harapanrakyat.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top