Ekonomi Papua Mulai Pulih di 2026, Inflasi Terkendali tapi Papua Pegunungan Masih Tekor

Penulis: Saiful  •  Senin, 13 Juli 2026 | 11:31:01 WIB
Pertumbuhan ekonomi Papua Selatan mencapai 3,93 persen pada tahun 2026.

JAYAPURA — Kepala Kanwil DJPb Provinsi Papua, Izharul Haq, mengungkapkan pemulihan ekonomi regional terlihat dari beberapa indikator utama. Pertumbuhan ekonomi tahunan (year on year) di Papua Selatan tercatat 3,93 persen, sementara Papua Tengah berhasil memangkas kontraksi ekonomi dari minus 35,59 persen menjadi minus 8,38 persen.

"Secara umum, indikator ekonomi regional menunjukkan arah yang positif meskipun tantangan di beberapa wilayah masih perlu mendapat perhatian," ujar Izharul di Jayapura, pekan lalu.

Inflasi Terendah di Papua Selatan, Tertinggi di Papua Pegunungan

Dari sisi stabilitas harga, inflasi tahunan di Provinsi Papua turun menjadi 2,79 persen dari sebelumnya 3,38 persen. Papua Selatan juga mencatat perbaikan dengan inflasi melandai ke 2,17 persen dari 3,34 persen.

Namun, Papua Pegunungan masih menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi, yakni 4,84 persen. Kondisi ini dipicu oleh tingginya biaya distribusi barang akibat ketergantungan pada transportasi udara yang terdampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Kemiskinan Turun di Hampir Seluruh Papua, Kecuali Satu Provinsi

Indikator kesejahteraan juga menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan mengalami penurunan di hampir seluruh provinsi di Tanah Papua. Pengecualian terjadi di Papua Tengah yang justru mencatat kenaikan angka kemiskinan.

Sementara itu, tingkat ketimpangan pendapatan terus membaik. Papua Pegunungan mencatat rasio gini sebesar 0,347, lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai 0,363. Angka ini menunjukkan distribusi pendapatan di provinsi tersebut semakin merata.

Petani di Papua Pegunungan Masih Merugi, NTP di Bawah 100

Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Papua mencapai 100,89, berada di atas angka 100 yang mencerminkan daya beli dan tingkat kesejahteraan petani relatif baik. Namun, Papua Pegunungan masih menghadapi tantangan serius karena NTP-nya berada di bawah 100. Artinya, pendapatan petani belum sepenuhnya mampu menutupi biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga.

"Belanja pemerintah diharapkan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah sehingga pemulihan ekonomi dapat berlangsung lebih kuat dan merata," kata Izharul.

Ia menambahkan, peningkatan belanja pemerintah pusat maupun transfer ke daerah diharapkan terus menjadi penggerak aktivitas ekonomi dan mempercepat pemulihan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Papua.

Reporter: Saiful
Sumber: papua.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top