JAYAPURA — Kepala Kantor Perwakilan BI Papua Warsono mengungkapkan pertumbuhan transaksi digital itu sejalan dengan peningkatan jumlah merchant yang menggunakan QRIS. Hingga triwulan pertama 2026, jumlah pedagang yang terdaftar sebagai merchant QRIS di Papua dan daerah otonomi baru (DOB) tumbuh 17,71 persen secara tahunan.
Meski jumlah merchant melonjak signifikan, pertumbuhan pengguna QRIS di Papua masih terbatas. Warsono menyebutkan angka pengguna hanya naik 0,03 persen secara tahunan. Artinya, sebagian besar pertumbuhan transaksi saat ini masih didorong oleh perluasan jumlah pedagang, bukan oleh peningkatan jumlah konsumen baru.
"Selain merchant, jumlah pengguna QRIS juga terus bertambah meski dengan pertumbuhan yang lebih terbatas, yakni sebesar 0,03 persen secara tahunan," ujar Warsono di Jayapura, Senin.
Data Bank Indonesia menunjukkan pada Mei 2026 saja, nilai transaksi QRIS di Papua mencapai Rp502,4 miliar. Volume transaksi tercatat sebanyak 3,87 juta kali selama bulan yang sama. Angka ini menjadi indikator bahwa sistem pembayaran nontunai mulai diterima masyarakat Papua untuk transaksi sehari-hari.
Menurut Warsono, perkembangan ini menandakan meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap sistem pembayaran yang lebih cepat, mudah, dan aman. Ia menambahkan, BI akan terus mendorong percepatan digitalisasi sistem pembayaran melalui perluasan penggunaan QRIS di berbagai sektor ekonomi.
Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga memperluas inklusi keuangan di Papua. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penggunaan QRIS dinilai membantu memperluas akses pasar serta meningkatkan keamanan transaksi tanpa harus bergantung pada uang tunai.
"Selain memberikan kemudahan bagi masyarakat, penggunaan QRIS juga dinilai membantu pelaku usaha, khususnya UMKM, dalam memperluas akses pasar dan meningkatkan keamanan transaksi tanpa menggunakan uang tunai," ujar Warsono.