JAYAPURA — Kabar penemuan potensi gunung emas baru di wilayah Pegunungan Papua tengah memicu gelombang kekhawatiran di kalangan masyarakat lokal. Warga dari tiga kabupaten—Intan Jaya, Nduga, dan Paniai—bersatu menyampaikan satu pesan: tidak akan ada lagi tambang yang mengambil kekayaan alam secara tidak adil dan merusak tanah adat.
“Kita sudah merasakan apa yang terjadi dengan tambang lama di wilayah ini. Darah telah mengalir, tanah adat kita dirusak, sumber air kita tercemar, tapi apa yang kita dapatkan? Hanya kesusahan dan konflik yang tak kunjung berakhir,” ujar Lukas Uropmabin, pemuka adat dari Distrik Sugapa, Intan Jaya, saat ditemui di rumah adatnya.
Informasi tentang potensi gunung emas baru ini telah menyebar luas melalui berbagai kanal komunikasi masyarakat sejak beberapa minggu terakhir. Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan—konflik yang berkepanjangan di Papua sejak tahun 1960-an selalu berkaitan dengan status wilayah dan pengelolaan sumber daya alam.
“Mengapa konflik tak kunjung padam? Jawabannya jelas: karena ada emas di bawah tanah kita, dan orang luar ingin mengambilnya dengan paksa,” tegas Yohanis Wenda (28), aktivis masyarakat lokal dari Nduga. “Kita bukan menentang pembangunan, tapi kita menuntut keadilan yang setara.”
Masyarakat lokal mengajak semua pihak untuk melihat kenyataan di tanah Papua dengan mata jernih. Mereka menolak penyelesaian konflik dengan kekuatan senjata dan meminta ruang dialog yang setara dengan pemerintah.
“Kita tidak ingin perang atau pertumpahan darah. Yang kita inginkan adalah kesempatan yang sama untuk duduk bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak terkait di meja perundingan,” kata Markus Dogopia (52), tokoh masyarakat dari Kabupaten Paniai.
Dr. Yulianus Pigai, akademisi dari Universitas Cenderawasih yang aktif dalam gerakan perdamaian, menambahkan bahwa ada dua akar masalah yang tidak bisa diabaikan: hak atas tanah adat milik rakyat asli Papua dan isu status wilayah yang masih diperdebatkan. “Kalau hanya diselesaikan dengan kekuatan senjata, konflik akan terus berlanjut dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Wartawan telah mencoba menghubungi pihak pemerintah daerah dan pusat untuk mendapatkan tanggapan resmi terkait potensi penemuan gunung emas baru dan kekhawatiran masyarakat. Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait masih dalam proses menyusun tanggapan resmi.
“Jangan tutup mata pada penderitaan yang kita alami selama puluhan tahun. Kami butuh solusi yang adil dan merata bagi semua pihak, bukan solusi yang hanya menguntungkan segelintir orang,” pungkas Lukas Uropmabin.