PAPUA — Laporan resmi diterima Polres Lumajang dengan nomor LP/B/124/VII/2026/SPKT/Polres Lumajang/Polda Jawa Timur pada pekan ini. Namun saat keluarga korban melaporkan kasus tersebut, pelaku dilaporkan sudah tidak berada di rumahnya.
"Pelaku sudah melarikan. Kita laporan Senin kemarin, pelaku sudah tidak ada," ujar Ayu Alinda, pendamping korban, Rabu (15/7/2026).
Peristiwa ini terbongkar setelah keluarga curiga dengan unggahan story WhatsApp korban yang selalu bernada sedih. Seorang kerabat kemudian menanyakan hal itu kepada ayah korban. Dari situ, korban akhirnya mengaku telah menjadi korban pemerkosaan tetangganya yang menjabat sebagai ketua RT.
"Awalnya ada kerabatnya yang menanyakan pada ayahnya, kenapa story WhatsApp korban selalu terlihat sedih. Saat itu lah, baru terbongkar, jika korban selama ini menjadi korban pemerkosaan tetangganya yang juga menjabat sebagai ketua RT," kata Ayu.
Dugaan pemerkosaan pertama kali terjadi di rumah korban saat kondisi rumah sedang sepi. Kedua orangtua korban saat itu sedang bekerja. Perbuatan itu terus berulang, dan pelaku diduga tak segan menganiaya korban jika menolak melayani nafsunya.
"Katanya korban sempat kena tendangan (pelaku) ketika menolaknya," ujar Ayu menirukan keterangan korban.
Keluarga korban sempat mendatangi dan cekcok dengan pelaku pada Minggu (12/7/2026) malam. Namun karena tidak puas dengan jawaban yang diberikan, mereka memutuskan melapor ke polisi keesokan harinya.
Akibat kejadian ini, korban mengalami perubahan perilaku. Ia disebut lebih banyak diam dan sempat tidak mau bersekolah. Pendamping korban saat ini tengah berkoordinasi dengan dinas sosial setempat untuk memberikan trauma healing.
"Saya sudah berkoordinasi dengan dinas sosial setempat untuk trauma healing. Korban saat ini terlibat lebih banyak diam," kata Ayu.
Pihak pendamping berharap pelaku segera ditangkap. Visum dan barang bukti telah diserahkan kepada kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut.