BIAK NUMFOR — Ledakan dahsyat yang merenggut sembilan nyawa di Biak Numfor dipicu oleh aksi nekat warga yang mencoba memotong mortir sisa Perang Dunia II. Material peledak aktif yang masih terkandung di dalamnya memicu ledakan yang tak hanya menewaskan para pelaku, tetapi juga melukai warga lain di sekitarnya.
Kepolisian Daerah Papua mengonfirmasi bahwa titik pusat ledakan berada di kolong rumah seorang warga. Kekuatan ledakan menyisakan kawah berdiameter 3,6 meter dengan kedalaman sekitar 80 sentimeter.
Selain korban jiwa, peristiwa ini menyebabkan kerusakan parah pada sepuluh bangunan di sekitar lokasi. Sembilan di antaranya merupakan rumah tinggal warga dan satu lainnya adalah rumah ibadah. Tim Laboratorium Forensik Polda Papua mengamankan 111 barang bukti dari lokasi kejadian.
Kabid Laboratorium Forensik Polda Papua AKBP I Gede Suhartawan menjelaskan, hasil uji kimia forensik memastikan serpihan logam yang ditemukan identik dengan mortir utuh dan mengandung Trinitrotoluene (TNT). Bahan peledak ini masuk kategori high explosive dengan daya ledak sangat tinggi.
"Gesekan antara mata gergaji dengan badan mortir menghasilkan panas yang mengenai fuse atau pemicu ledakan sehingga mengaktifkan booster dan akhirnya memicu detonasi terhadap muatan utama berupa TNT," jelas Gede Suhartawan dalam keterangan resminya.
Ia menegaskan bahwa TNT tidak akan meledak hanya karena dibakar, melainkan memerlukan rangkaian pemicu. Dalam kasus ini, panas dari proses pemotongan menggunakan gergaji besi menjadi pemicu aktifnya detonasi.
Dirkrimum Polda Papua Kombes Parasian Herman Gultom menyatakan, dari hasil penyidikan, lima orang diduga kuat melakukan aktivitas memotong atau membongkar mortir tersebut. Mereka akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Pasal 308 subsider Pasal 306 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
"Penyidikan terhadap kelima tersangka akan dihentikan melalui penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) karena para tersangka telah meninggal dunia," ujar Parasian.
Meski perkara terhadap kelima tersangka dihentikan, penyidikan masih terus berlanjut. Polisi masih mendalami asal-usul bahan peledak serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam insiden berdarah ini.
Kombes Parasian memastikan seluruh korban meninggal berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI Polda Papua. Delapan orang ditemukan tewas di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit. Jenazah telah diserahkan kepada keluarga masing-masing. Sementara itu, enam korban luka-luka masih menjalani perawatan medis.