PAPUA — Laga pamungkas Piala Dunia 2026 mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia, Spanyol dan Argentina, pada Senin (20/7) dini hari WIB. Babak pertama yang berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, justru menyajikan tempo lambat dan minim aksi krusial di kedua kotak penalti.
Spanyol langsung menguasai aliran bola sejak menit awal. Rencana permainan Luis de la Fuente berjalan sempurna: pressing tinggi dan penguasaan bola ketat membuat Argentina kesulitan mengembangkan serangan. Julian Alvarez dan lini depan Albiceleste nyaris tak mendapat suplai bola.
Rodri menjadi motor permainan di lini tengah, mengatur ritme dan memutus distribusi bola ke pemain sayap Argentina. Hasilnya, Argentina gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang 45 menit pertama.
Peluang pertama Spanyol lahir di awal babak pertama lewat Lamine Yamal. Pemain muda Barcelona itu berhasil lolos dari jebakan offside dan melepaskan tembakan dari dalam kotak penalti, namun bola masih bisa diblok Lisandro Martinez sebelum diamankan Emiliano Martinez.
Memasuki 10 menit terakhir, Spanyol kembali mengancam. Mikel Oyarzabal melepaskan tembakan kaki kiri dari depan kotak penalti pada menit ke-38, tetapi masih bisa diamankan Emiliano Martinez. Empat menit berselang, giliran Marc Cucurella yang mencoba peruntungan dari luar kotak penalti, namun bola melenceng di sisi kiri gawang.
Statistik babak pertama menunjukkan dominasi Spanyol yang mutlak dalam penguasaan bola, namun tanpa efektivitas di lini depan. Argentina justru tampil di luar ekspektasi dengan tidak mampu menciptakan satu pun peluang berbahaya. Laga alot ini juga diwarnai sejumlah pelanggaran keras dari kedua tim.
Pelatih Lionel Scaloni dipastikan harus melakukan perubahan strategi di babak kedua. Jika tidak, Argentina berisiko kehilangan momentum dan membiarkan Spanyol terus mengontrol pertandingan. Sebaliknya, Spanyol perlu meningkatkan kreativitas di sepertiga akhir lapangan untuk memecah kebuntuan.