SENTANI — Puluhan pelajar dari SD Inpres Komba Sentani dan SMP YPPGI Sentani mendapat pengalaman langsung di Bandara Internasional Sentani, Jayapura, Kamis pekan lalu. Mereka mengikuti program InJourney Community Care yang dirancang untuk menanamkan kesadaran keselamatan penerbangan sejak dini.
Branch Communication and CSR Department Head Bandara Internasional Sentani, Citra Mahesa Nusantara, mengatakan peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum tepat untuk memberikan edukasi yang interaktif. "Kami ingin anak-anak memahami bahwa keselamatan penerbangan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas petugas bandara," ujarnya dalam keterangan resmi.
Salah satu materi utama yang disampaikan adalah larangan bermain layang-layang di dekat kawasan bandara. Menurut Citra, aktivitas sederhana ini kerap mengancam keselamatan operasional penerbangan. "Kami berharap para siswa bisa menjadi safety agent di lingkungan keluarga dan masyarakat," kata dia.
Tak hanya sosialisasi, para peserta diajak berkeliling melihat sejumlah fasilitas bandara. Dalam kunjungan bertajuk School Goes to Airport itu, anak-anak diperkenalkan dengan berbagai profesi seperti pilot, pengatur lalu lintas udara, teknisi, hingga petugas keamanan penerbangan. "Kami ingin menumbuhkan mimpi mereka untuk berkarier di dunia aviasi," tambah Citra.
Program ini juga diisi dengan penyerahan bantuan pendidikan berupa tas sekolah dan perlengkapan alat tulis kepada seluruh peserta. Bantuan itu merupakan bagian dari komitmen PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional bandara.
Citra menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial. "Mereka kami ajak mengenal dunia kebandarudaraan, memahami pentingnya keselamatan penerbangan, serta menyadari bahwa menjaga keamanan kawasan bandara merupakan tanggung jawab bersama," ujarnya.
Melalui program InJourney Community Care, Bandara Sentani berharap edukasi serupa bisa terus menjangkau lebih banyak sekolah di Kabupaten Jayapura. Kesadaran sejak usia dini dinilai krusial untuk menekan risiko gangguan keamanan penerbangan yang sering kali dipicu oleh aktivitas warga di sekitar bandara.