Mahasiswa KKN Uncen Tempatkan Tiga Drop Box Sampah Plastik di Kampung Asei Besar, Jayapura

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:31:01 WIB

Ketua KKN Kelompok 18, Hesti Selvianingrum, mengatakan pengelolaan sampah plastik di Kampung Asei Besar menghadapi sejumlah tantangan. “Belum tersedianya sarana pemilahan khusus botol plastik dan belum adanya sistem pengumpulan yang terintegrasi dengan bank sampah,” ujar mahasiswa Jurusan Akuntansi 2023 itu. Drop box ini menjadi langkah awal untuk membangun budaya peduli lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

Hesti menambahkan, program ini digarap bersama Pemerintah Kampung Asei Besar, BUMKam Yo Holey, Bank Sampah Jayapura, Earth Hour Jayapura, dan masyarakat setempat. “Program ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi pencemaran, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya,” katanya.

Ekowisata Dorong Kesadaran Lingkungan

Dosen Pendamping Lapangan, Pascalina Sesa, menjelaskan bahwa drop box ini dirancang sebagai program keberlanjutan untuk pengembangan kampung sebagai kawasan ekowisata. “Kami punya rancangan membantu seperti ini sebagai keberlanjutan program,” ujarnya. Kampung Asei Besar dikenal sebagai desa wisata, sehingga semakin banyak wisatawan maka potensi sampah plastik pun meningkat. Pemilahan sejak awal menjadi kunci agar sampah tidak mencemari lingkungan sekitar.

Menurut Pascalina, tema “Membumi” sengaja diusung untuk membangun semangat mahasiswa turun langsung ke masyarakat. Ia berharap drop box bisa menjadi pemicu kesadaran kolektif dalam mengelola sampah rumah tangga.

Kepala Kampung Apresiasi, Sebut Bank Sampah Sempat Macet

Kepala Kampung Asei Besar, Anthonetha Ohee, menyambut baik inisiatif mahasiswa KKN. “Drop box ini kan bagus sekali. Kebetulan kampung ini juga desa wisata dengan adanya bantuan ini orang bisa sadar diri bahwa sampah itu harus ditaruh di dalam drop box,” ujarnya. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya warga sempat mengumpulkan sampah plastik untuk dijual ke bank sampah di Komba, namun aktivitas itu terhenti setelah banjir bandang melanda beberapa tahun lalu.

Anthonetha berharap drop box dapat menghidupkan kembali kebiasaan memilah sampah dan menambah nilai ekonomi bagi warga. “Saya berterima kasih ke mereka karena itu,” katanya.

Peluang Baru bagi BUMKam dan Ekonomi Kampung

Dosen Akuntansi Uncen, Sara Paru, yang menjadi salah satu pemateri dalam program ini, menekankan bahwa setiap kampung di Papua memiliki karakteristik BUMKam yang berbeda. “Kalau di pulau Asei ini, lebih cenderung untuk ditingkatkan ekowisata,” ujarnya. Ia melihat adanya peluang baru ketika sampah plastik yang terkumpul bisa disetorkan ke bank sampah, ditimbang, dan memiliki nilai ekonomis.

“Jadi itu satu peluang baru yang kami temukan saat aksi go green di kampus, memilah sampah plastik, lalu daftar di Bank Sampah dibuatkan rekening, ditimbang, dan ditentukan nilai ekonomisnya,” kata Sara. Dengan sistem drop box yang mudah diakses, warga dan wisatawan bisa langsung membuang botol plastik tanpa harus menunggu jadwal penjemputan. BUMKam Yo Holey pun diharapkan dapat mengelola hasil setoran sebagai sumber pendapatan kampung.

Reporter: Sutomo
Sumber: jubi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top