JAYAPURA — Melalui Gerakan Berlian, Pemprov Papua ingin memastikan perlindungan anak bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan saat Hari Anak Nasional. Wakil Gubernur Aryoko menekankan bahwa setiap kebijakan dan pelayanan publik harus menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prioritas.
Aryoko menjelaskan, Pemprov tidak bisa bekerja sendiri. "Kami tidak bisa kerja sendiri sehingga membutuhkan pihak lain. Untuk itu mari bergerak bersama dalam menyukseskan gerakan Berlian agar bergema dari kota hingga pelosok kampung," ujarnya di Jayapura, Jumat.
Gerakan ini menghimpun peran aktif pemerintah daerah, perusahaan, lembaga pendidikan, pemuka agama dan adat, serta media massa dan komunitas masyarakat. Semua diminta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Wagub Aryoko menyebut anak-anak Papua akan menentukan masa depan daerah. Ia menegaskan, "Anak-anak Papua merupakan generasi yang akan menentukan masa depan daerah. Karena itu, seluruh pihak perlu memastikan setiap anak memperoleh haknya atas pendidikan, perlindungan, kesehatan, dan ruang untuk berkembang sehingga di Tanah Papua tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal."
Kutipan itu menjadi dasar utama Gerakan Berlian. Pemprov berharap upaya ini bisa menjangkau seluruh wilayah Papua, termasuk kampung-kampung terpencil, sehingga terwujud lingkungan yang lebih aman, inklusif, dan ramah anak.
Menurut Aryoko, perlindungan anak harus menjadi bagian dari budaya pembangunan, bukan hanya kegiatan peringatan. "Karena setiap kebijakan dan pelayanan publik juga perlu menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prioritas," ucapnya.
Dengan Gerakan Berlian, Pemprov Papua mendorong semua elemen untuk menjadikan perlindungan anak sebagai kebijakan yang nyata di setiap sektor. Targetnya, tak ada satu pun anak Papua yang luput dari hak dasar mereka, sejalan dengan visi besar Papua CERAH.
Pewarta: Qadri Pratiwi, Hendrina Dian Kandipi