Gugatan Rasial di Pabrik Tesla Fremont Mencuat Lagi, 580 Pekerja Hitam Masih Berjuang

Penulis: Ragil  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 09:21:31 WIB
Ratusan pekerja kulit hitam di pabrik Tesla Fremont masih memperjuangkan gugatan rasial yang kembali mencuat.

PAPUA — Gugatan rasial terhadap raksasa kendaraan listrik Tesla kembali menjadi sorotan. Perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu memang telah mencapai kesepakatan rahasia dengan tiga penggugat awal — Marcus Vaughn, Titus McCaleb, dan Monica Chatman — pada awal Juni lalu. Namun, kasus dengan nomor RG17882082 itu masih terbuka dan justru menjadi bagian terkecil dari masalah yang dihadapi Tesla di pabrik Fremont.

Dua Penggugat Tersisa dan Ratusan Pekerja yang Menanti

Dua nama penggugat lainnya, Garret Parker dan Chanel Hendrix, masih bertahan. Lebih dari itu, pengacara penggugat menyebut ratusan pekerja lain telah mengantongi surat hak menggugat dari negara bagian dan belum mengajukan tuntutan. Kasus ini sempat disertifikasi sebagai class action yang mencakup sekitar 6.000 pekerja kulit hitam pada Mei 2024, tetapi kemudian dicabut setelah pengacara penggugat kesulitan mengumpulkan cukup saksi untuk rencana persidangan yang terkelola.

Keputusan itu tidak membuat tuntutan lenyap. Proses hukum justru berubah dari satu kasus besar menjadi lima gugatan kelompok yang sudah diizinkan maju oleh panel banding negara bagian.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Pabrik Model 3?

Dokumen pengadilan mengungkapkan gambaran yang jauh lebih kelam dari sekadar label "gugatan diskriminasi rasial." Para pekerja menggambarkan pabrik yang membangun Model 3 itu sebagai "perkebunan" dan "kapal budak," tempat mandor "mengayunkan cambuk."

Badan Hak Sipil California, yang menggugat Tesla pada Februari 2022 setelah investigasi tiga tahun, mendokumentasikan penggunaan kata-kata kasar seperti N-word, "porch monkey," "monkey toes," "boy," hingga "go back to Africa." Seorang pekerja bahkan mengaku mendengar cercaan itu 50 hingga 100 kali sehari. Area tertentu di pabrik bahkan secara internal disebut "porch monkey station" karena konsentrasi pekerja kulit hitam di sana.

Komisi Kesempatan Kerja Setara AS (EEOC) menambahkan temuan grafiti berupa swastika, ancaman, dan gambar jerat yang terpampang di fasilitas sejak 2015. Mantan Ketua EEOC Charlotte Burrows menyebutnya sebagai "kebencian rasial yang memalukan."

Struktur SDM yang Lemah Jadi Sorotan

Kasus negara bagian California memiliki daya gentar paling kuat. Pengadilan menolak mosi Tesla untuk putusan ringkasan pada 27 Mei lalu, membuka jalan bagi persidangan juri yang dijadwalkan pada 20 Juli di Oakland. Negara bagian tidak hanya menuntut soal cercaan, tetapi juga kegagalan struktural Tesla dalam menangani pengaduan.

Badan Hak Sipil menemukan bahwa Tesla hanya memiliki 33 staf SDM untuk 19.916 pekerja di California pada 2016 — rasio satu staf untuk setiap 604 karyawan. Angka itu memburuk menjadi satu per 740 pada 2020. Lebih mengejutkan lagi, pekerja kulit hitam rata-rata menerima kompensasi bulanan Rp 24,5 juta lebih rendah dibandingkan pekerja kulit putih antara Juni 2018 dan Juni 2024 (berdasarkan selisih USD 1.533 dikali kurs Rp 16.000).

Tesla membantah semua tuduhan. Perusahaan mengajukan pernyataan dari 228 karyawan yang mengaku tidak melihat apa pun. Elon Musk sendiri pernah berkomentar pada 2018 bahwa "jika seseorang bersikap jahat padamu, tapi meminta maaf dengan tulus, penting untuk berkulit tebal."

Kasus Federal Masuk Jalur Mediasi Rahasia

Sementara itu, kasus federal antara Tesla dan EEOC justru bergerak diam-diam. Kedua pihak sepakat memasuki mediasi privat pada Januari lalu berdasarkan Undang-Undang Penyelesaian Sengketa Administratif, yang berarti tidak ada transkrip dan catatan akan dimusnahkan. Langkah ini dinilai cerdas bagi perusahaan yang terus kalah di publik — mengingat juri pernah menjatuhkan dana ganti rugi USD 137 juta dalam kasus Owen Diaz.

Reporter: Ragil
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top