JAYAPURA — Pemerintah Provinsi Papua merancang pengembangan komoditas sagu secara terpadu dari kawasan hulu hingga hilir. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat kemandirian pangan daerah sekaligus menaikkan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Wakil Gubernur Papua Aryoko A.F. Rumaropen menegaskan sagu merupakan komoditas unggulan khas daerah yang potensinya besar untuk menjaga ketahanan pangan. Ia meminta instansi terkait serius menggarap pengembangan komoditas ini.
"Untuk itu saya minta, instansi terkait pengembangan komoditas unggulan khas daerah, seperti sagu," kata Aryoko di Jayapura, Kamis.
Menurut Aryoko, kemandirian pangan lokal menuntut kerja sama semua pihak. Seluruh jajaran OPD diminta terlibat, termasuk merangkul pelaku usaha kuliner di Papua.
"Pada Senin (27/) kami telah melakukan pertemuan dengan pelaku usaha kuliner lokal Papua untuk membahas terkait kendala-kendala dari pelaku usaha," ujarnya.
Pertemuan itu juga membahas langkah strategis tata kelola sagu. Penggiat kuliner lokal Charles Toto turut hadir dalam pembahasan tersebut.
Pada sektor hulu, pengembangan sagu melibatkan Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanian. Kedua instansi ini bertugas menjaga kelestarian kawasan hutan sagu serta menyediakan bibit unggul.
Upaya tersebut mencakup peningkatan teknik budidaya dan penerapan panen modern yang berkelanjutan. Dengan begitu, pasokan bahan baku sagu diharapkan stabil dari waktu ke waktu.
Sementara di sektor hilir, pengawasan ditangani Dinas Perindustrian Perdagangan bersama Dinas Koperasi UMKM. Fokusnya pada fasilitasi pengolahan pascapanen dan peningkatan kualitas kemasan komersial.
Legalitas izin usaha hingga perluasan akses jaringan pasar juga menjadi perhatian. Aryoko menambahkan, pemprov berkomitmen menyusun peta jalan pengembangan industri pangan lokal sebagai acuan bersama.
"Oleh sebab itu kami berkomitmen menyusun peta jalan pengembangan industri pangan lokal di mana sebagai acuan bersama agar olahan pangan bernilai ekonomi lebih tinggi," ujarnya.