PAPUA — OmniBook Ultra 14 adalah lini premium HP yang menyasar profesional yang butuh performa tinggi, baterai tahan seharian, dan desain tipis. Saya memakai unit dengan prosesor Snapdragon X2 Elite selama empat minggu untuk editing foto, video call, riset dengan 15+ tab Chrome, dan gaming ringan di waktu luang. Hasilnya: laptop ini memang monster performa, tapi keputusan desain dan harganya membuat saya ragu merekomendasikannya ke semua orang.
HP membenahi desain OmniBook tahun ini dengan aksen chrome di sisi samping dan belakang chassis, plus logo HP bertekstur brushed di tutupnya. Tersedia dalam dua warna—Stone Blue dan Eclipse Gray—keduanya tetap menampilkan detail chrome yang sama.
Bobotnya hanya 2,83 pon (sekitar 1,28 kg) dengan ketebalan 0,42 inci. Ini bukan laptop paling ringan di kelasnya, tapi cukup nyaman dibawa ke kantor, coffee shop, atau naik pesawat tanpa bikin punggung pegal. Build quality-nya solid, tidak ada flex berlebih di area keyboard maupun layar.
Inilah kejutan terbesar dari OmniBook Ultra 14. Dalam pengujian Geekbench 6, skor multicore-nya mencapai 20.075, mengalahkan MacBook Air M5 (17.067), Dell XPS 14 dengan Intel Panther Lake (16.927), dan bahkan MacBook Pro M5. Untuk encoding video 4K ke 1080p via Handbrake, laptop ini menyelesaikannya dalam 2 menit 11 detik—jauh lebih cepat dari MacBook Air M5 yang butuh 5 menit 8 detik.
Dalam pemakaian sehari-hari, tidak ada lag sama sekali. Multitasking berat dengan belasan tab Chrome, Spotify, dan aplikasi editing foto berjalan mulus. Skor single-core memang masih di bawah Apple Silicon, tapi selisihnya kini hanya beberapa ratus poin—bukan lagi jurang pemisah seperti generasi sebelumnya.
Untuk gaming, ini peningkatan besar dibanding Snapdragon X Elite generasi pertama. Saya mencoba Baldur's Gate III di setting Medium-High 1080p dan berjalan lancar. Final Fantasy XIV masih mengalami frame drop berkala (dari 70fps turun ke 50fps) karena belum punya native client untuk Windows on ARM—beban emulasi Prism Microsoft masih terasa. Tapi untuk sekadar hiburan saat perjalanan dinas, ini sudah lebih dari cukup.
Panel OLED 2.880 x 1.800 dengan refresh rate 120Hz di unit review ini sangat memanjakan mata. Brightness rata-rata 414 nits dengan peak HDR 847 nits, dan coverage DCI-P3 87%—lebih baik dari MacBook Air M5 (83,1%), meski kalah tipis dari Dell XPS 14 (89,7%).
Speaker quad-array dengan tuning PolyStudio mampu mengisi ruangan. Kombinasi layar dan audio ini membuat OmniBook Ultra 14 nyaman dipakai untuk streaming film atau editing video ringan. Sayangnya, tidak ada card reader—Anda harus membeli dongle USB-C jika ingin mentransfer file dari kamera SD card.
Dalam pengujian web-surfing, OmniBook Ultra 14 bertahan 13 jam 27 menit. Ini cukup untuk satu hari kerja penuh tanpa charger. Namun standar laptop Snapdragon memang lebih tinggi: MacBook Air M5 tembus 15 jam 37 menit, dan Lenovo Yoga Slim 7x dengan chip generasi sebelumnya mencapai 14 jam 14 menit. Dell XPS 14 berbasis Intel justru lebih boros dengan 12 jam 23 menit.
Konsumsi daya ekstra ini kemungkinan besar disebabkan oleh GPU Adreno X2-90 yang lebih bertenaga—trade-off yang wajar untuk performa gaming yang jauh lebih baik.
Ini masalah terbesar OmniBook Ultra 14. HP hanya menyediakan tiga port USB-C (40Gbps) dan satu audio jack. Tidak ada HDMI, tidak ada USB-A, tidak ada SD card reader. Untuk laptop premium seharga puluhan juta, ini keterbatasan yang sulit diterima—Anda wajib membeli docking station atau dongle Bluetooth agar laptop ini "fungsional" secara penuh.
Masalah kedua adalah harga. Unit yang saya review dibanderol USD 3.599 (sekitar Rp 57,6 juta)—bahkan setelah diskon menjadi USD 2.959. Dengan uang segitu, Anda bisa membeli Razer Blade 16 dengan RTX 5070 Ti, atau MacBook Pro M5 Pro 18-core dengan RAM 24GB yang harganya lebih murah dan punya lebih banyak port. Varian dasar Snapdragon X2 Plus dengan RAM 16GB dan layar 60Hz dibanderol USD 1.899 (sekitar Rp 30,4 juta), masih lebih mahal dari OmniBook Ultra Flip 14 tahun lalu yang USD 1.499.
Terakhir, kompatibilitas aplikasi. Mayoritas aplikasi populer sudah native di ARM, tapi software niche seperti beberapa produk Autodesk masih bermasalah atau harus dijalankan lewat emulasi Prism dengan penurunan performa signifikan. Jika pekerjaan Anda bergantung pada aplikasi spesifik, cek dulu daftar aplikasi native ARM sebelum memutuskan membeli.
OmniBook Ultra 14 adalah laptop dengan performa luar biasa, layar OLED yang indah, dan baterai yang cukup untuk kerja seharian. Sebagai mesin kerja portable, ia nyaris sempurna.
Namun, dengan harga segini, port yang minim dan ketergantungan pada dongle adalah kelemahan yang sulit dimaafkan. Laptop ini cocok untuk Anda yang sudah sepenuhnya beralih ke aksesori wireless dan USB-C, dan sangat membutuhkan performa CPU setara workstation dalam bodi ultra-tipis. Untuk yang lain, MacBook Pro M5 atau laptop Intel/NVIDIA di harga serupa menawarkan nilai lebih baik—terutama jika Anda butuh port lengkap dan kompatibilitas software tanpa kompromi.