PAPUA — Keputusan panitia pelaksana memindahkan seluruh laga semifinal dan final ke Pulau Dewata otomatis menghapus status kandang bagi Persebaya. Namun, alih-alih mengeluh, Toni justru melihat situasi ini sebagai ujian netralitas yang harus dihadapi dengan kepala dingin.
"Kalau boleh memilih tentu saya lebih memilih bermain di Surabaya karena lebih dekat dengan keluarga. Tapi kalau dimainkan di Bali juga tidak masalah, yang terpenting kami harus siap bertanding di mana pun," ujar pemain asal Surabaya itu kepada jurnalis, termasuk Kompas.com.
Isu kehadiran suporter di stadion juga menjadi perbincangan jelang laga. Bagi Toni, hal tersebut di luar kendali pemain. Ia menegaskan timnya tidak akan menjadikan hal itu sebagai alasan untuk tampil longgar.
"Kami sebagai pemain tentu mengikuti semua keputusan dan aturan yang sudah ditetapkan. Ada ataupun tidak ada suporter di stadion, kami harus tetap siap memberikan yang terbaik di pertandingan," imbuhnya.
Di sisi lain, kebijakan rotasi besar-besaran yang dilakukan pelatih Bernardo Tavares sepanjang turnamen pramusim ini dinilai Toni sebagai proses ilmiah. Pelatih asal Portugal itu dinilai sedang memetakan kapasitas setiap pemain sebelum kompetisi resmi bergulir.
"Coach Tavares juga masih ingin melihat performa seluruh pemain. Karena itu, beliau terus melakukan rotasi untuk menemukan komposisi terbaik sesuai dengan kebutuhannya," tuturnya.
Laga derbi Jawa Timur ini jelas tidak akan berjalan mudah. Namun, Toni memiliki alasan kuat untuk optimistis. Pada putaran kedua Super League 2025-2026, Persebaya sukses membantai Arema FC dengan skor telak 4-0 di stadion yang sama.
Pengalaman manis itu diyakini menjadi bekal penting. Setidaknya, para pemain tahu bagaimana rasanya mencetak gol dan meraih kemenangan di lapangan yang akan mereka huni kembali Selasa nanti.
Kemenangan di laga ini akan membawa Persebaya melangkah ke partai puncak. Dengan persiapan yang sudah berjalan dan modal statistik yang ada, Bajul Ijo berpeluang memutus puasa gelar di turnamen pramusim.