Palang Merah Indonesia (PMI) Papua meningkatkan kapasitas personel untuk operasi kemanusiaan di daerah rawan bencana dan konflik. Langkah ini ditempuh melalui lokakarya markas tangguh relawan siaga di Jayapura, guna memastikan respons yang cepat, tepat, dan terkoordinasi di tengah dinamika lapangan yang berisiko tinggi.
JAYAPURA — Ketua PMI Papua Zekeus Degey menegaskan bahwa kesiapsiagaan pengurus, staf, dan relawan menjadi kunci utama dalam merespons kedaruratan. Ia menyebut situasi di lapangan sering kali tidak menentu, sehingga setiap personel harus memiliki kesiapan mental, fisik, dan pemahaman regulasi yang sama sebelum diterjunkan.
"Kesiapsiagaan pengurus, staf, dan relawan merupakan kunci keberhasilan respons kedaruratan tersebut, terutama di tengah dinamika situasi di lapangan yang sering kali tidak menentu dan berisiko tinggi," ujar Zekeus di Jayapura, Rabu.
Zekeus menjelaskan, tantangan yang dihadapi relawan saat menangani dampak kekerasan akibat gangguan keamanan dan konflik sosial jauh lebih kompleks dibandingkan bencana alam. Selain keterampilan teknis seperti evakuasi dan pertolongan pertama, relawan wajib memahami prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Prinsip kesamaan, kesukarelaan, kenetralan, dan kemandirian harus diamalkan di lapangan. Relawan juga dituntut mampu menerapkan kerangka akses yang lebih aman atau safer access framework, termasuk memahami pedoman penugasan personel pada masa darurat.
Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi terkait pembagian tugas, rantai komando, dan prosedur operasi standar (SOP) PMI saat kedaruratan. Dengan demikian, mobilisasi relawan dan bantuan dapat berjalan sesuai alur yang telah direncanakan.
Pemahaman mengenai safer access framework dinilai krusial untuk menjamin keamanan personel dan perlindungan lambang di area yang sensitif atau sedang dilanda gangguan keamanan. Hal ini juga menjadi bekal bagi relawan untuk berinteraksi dengan pemangku kepentingan dan komunitas terdampak.
PMI Papua juga membekali personelnya dengan kemampuan komunikasi interpersonal, diseminasi, advokasi, dan diplomasi kemanusiaan dasar. Kemampuan ini diperlukan untuk menjelaskan peran PMI kepada seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat luas.
Dalam lokakarya tersebut, peserta menyusun rencana kontingensi dan operasi tanggap darurat. Simulasi alur mobilisasi relawan dan bantuan saat penugasan darurat turut dilakukan untuk menguji kesiapan di lapangan.