PAPUA — Keputusan ini diumumkan Panic melalui email resmi kepada para pelanggan yang membeli Playdate antara masa penerapan tarif dan 21 April 2026. Perusahaan mengakui telah membebankan biaya tarif sebesar 19 persen sebagai pos tersendiri saat checkout, dan kini mengembalikan dana tersebut secara penuh.
“Itu bukan uang kami untuk disimpan, dan rasanya sangat baik bisa mengembalikannya,” ujar CEO Panic, Cabel Sasser, dalam pernyataannya kepada Game Developer. “Itu cara mudah untuk tahu bahwa kami mengambil keputusan yang tepat.”
Panic menjelaskan bahwa proses refund baru rampung pada Agustus 2026, bukan karena kendala teknis internal, melainkan karena alur birokrasi yang panjang. Perusahaan harus mengajukan permohonan resmi ke pemerintah AS, menunggu dana masuk, lalu membangun sistem khusus untuk memproses pengembalian dana bagi kelompok pelanggan yang terdampak.
“Saat Anda memesan dari kami, kami membebankan tarif yang dikenakan pemerintah AS untuk setiap Playdate yang kami produksi. Kami memperlakukannya seperti pajak lainnya dan meneruskannya sebagai item terpisah di checkout,” demikian bunyi keterangan Panic di halaman pusat bantuan resminya.
Perusahaan juga mengonfirmasi telah berhenti menerapkan biaya tarif 19 persen untuk pesanan baru sejak 21 April 2026, jauh sebelum proses refund dimulai.
Sikap Panic menjadi pengecualian di tengah industri. Tarif impor era Trump memang memengaruhi hampir seluruh perusahaan elektronik yang beroperasi di AS, termasuk raksasa seperti Nintendo yang sempat menyuarakan keberatannya. Namun, mayoritas dari mereka tidak pernah membahas opsi refund kepada konsumen.
Hingga saat ini, hanya sedikit perusahaan yang menawarkan jalur pengembalian dana. Beberapa di antaranya justru berasal dari sektor logistik, seperti FedEx, UPS, dan DHL, yang menyediakan mekanisme klaim bagi pengirim barang.
Diamnya perusahaan-perusahaan besar ini tidak luput dari perhatian hukum. Amazon, Sony, dan Nintendo kini menghadapi gugatan class action yang menuduh mereka secara hukum wajib mengembalikan biaya tarif yang telah dibayarkan pelanggan.
Meski kebijakan ini berfokus pada pasar AS, kasus ini menjadi preseden penting bagi konsumen global, termasuk Indonesia. Playdate tidak dijual resmi di Tanah Air, sehingga pembeli lokal yang mendapatkan unit melalui jasa titip (jastip) atau importir paralel tidak otomatis tercakup dalam skema refund Panic.
Konsumen Indonesia yang membeli melalui pihak ketiga tetap harus mengurus klaim langsung ke Panic dengan menunjukkan bukti pembelian dan nomor seri perangkat. Namun, proses pengiriman lintas negara dan perbedaan yurisdiksi membuat peluang keberhasilan refund menjadi lebih kecil dibandingkan pembeli domestik AS.
Bagi pengguna yang membeli langsung dari toko resmi Panic dengan alamat pengiriman AS, proses refund dilakukan otomatis ke metode pembayaran awal tanpa perlu pengajuan tambahan.
Keputusan Panic ini setidaknya menetapkan standar etika baru di industri: ketika pemerintah mengakui kesalahan kebijakan, uang pelanggan yang sempat ditarik seharusnya kembali ke tangan pemiliknya, bukan masuk ke kas perusahaan.