DEIYAI — Seni merajut Noken Papua menyimpan filosofi hidup yang relevan untuk membentuk karakter generasi muda, jauh melampaui fungsinya sebagai wadah membawa barang. Titus Pekei, akademisi sekaligus penulis buku "Cermin Noken Papua", menilai proses pembuatan tas tradisional ini mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu mulai tergerus zaman.
UNESCO mencatat Noken sebagai multifunctional knotted or woven bag, handcraft of the people of Papua. Organisasi dunia itu memasukkannya ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Membutuhkan Pelindungan Mendesak pada 2012. Pengakuan internasional ini berbanding terbalik dengan fakta di lapangan: jumlah perajin dan pengguna Noken terus menurun.
Titus menjelaskan ancaman terhadap keberlangsungan Noken datang dari berbagai arah. Pewarisan tradisional melemah, jumlah perajin berkurang, dan persaingan ketat dengan tas produksi pabrik menggerus eksistensi warisan budaya ini.
Kesulitan memperoleh bahan baku tradisional dari serat kayu atau daun turut memperparah kondisi. Padahal, bahan alami tersebut menjadi kunci utama keaslian dan nilai ekologis dalam setiap helai anyaman Noken.
Bagi masyarakat Papua, Noken adalah cerminan cara hidup yang tak terpisahkan dari keseharian. Proses pembuatannya bukan sekadar aktivitas keterampilan tangan, melainkan ruang belajar yang mewariskan pengetahuan tentang alam, pemilihan material, dan ketelitian.
Nilai kerja keras, kebersamaan, kepedulian, dan penghargaan terhadap alam melekat erat dalam setiap proses pembuatan hingga penggunaan Noken. Lebih dari itu, Noken menjadi simbol identitas budaya dan alat mempererat hubungan sosial dalam masyarakat.
Upaya pelestarian yang hanya berfokus mempertahankan bentuk fisik Noken dinilai tidak cukup. Titus menekankan pentingnya menghidupkan kembali pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan filosofi di balik setiap rajutan Noken.
"Noken perlu dihadirkan dalam pendidikan, keluarga, masyarakat, dan kehidupan generasi muda. Dengan demikian, Noken tak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi menjadi sumber pembelajaran bagi masa kini dan masa depan," ujar Titus Pekei dalam tulisannya yang dikutip Suara Papua.
Langkah konkret yang bisa dilakukan adalah mengintegrasikan pembelajaran Noken ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah Papua. Pendidikan informal di lingkungan keluarga juga berperan krusial untuk memastikan keterampilan ini terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan pendekatan tersebut, Noken dapat bertransformasi menjadi media pendidikan karakter yang efektif sekaligus menjaga kelestarian budaya Papua dari kepunahan. Upaya ini sejalan dengan semangat UNESCO yang mendorong perlindungan mendesak terhadap Warisan Budaya Takbenda yang terancam punah.