PAPUA — Menjalani kehamilan tidak selalu mulus. Di tengah perubahan fisik, Bunda mungkin dihadapkan pada tekanan pekerjaan, kekhawatiran soal persalinan, atau masalah rumah tangga. Stres sesekali memang wajar, tapi bila berlangsung lama, dampaknya bisa menjangkau si kecil jauh setelah ia lahir.
Meta-analisis dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry yang menelaah 71 penelitian menemukan kaitan antara depresi dan kecemasan ibu selama hamil dengan masalah sosial-emosional pada anak. Namun perlu digarisbawahi, ini hubungan statistik, bukan kepastian mutlak. Artinya, tidak semua anak dari ibu yang stres saat hamil pasti sulit bergaul.
Bagaimana stres Bunda bisa "terbaca" oleh janin? Para ahli menduga mekanismenya lewat sistem respons stres tubuh, yaitu poros hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA). Saat stres, tubuh memproduksi lebih banyak kortisol, dan perubahan ini memengaruhi lingkungan biologis janin.
Tinjauan sistematis tahun 2024 terhadap 71 studi pencitraan otak menunjukkan adanya kaitan antara distress ibu hamil dengan perubahan struktur otak janin, terutama di sistem limbik, korteks prefrontal, dan insula. Area-area ini berperan penting dalam regulasi emosi dan respons terhadap stres.
Meski temuan ini signifikan, para peneliti mengingatkan bahwa mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami. Masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya.
Kemampuan mengatur emosi adalah keterampilan dasar yang menentukan bagaimana anak merespons lingkungan sosialnya. Anak yang mudah frustrasi atau sulit menenangkan diri tentu butuh dukungan ekstra saat belajar berinteraksi dengan teman sebaya.
Tinjauan sistematis dari 32 penelitian menemukan bahwa stres dan kecemasan selama kehamilan berhubungan dengan reaktivitas negatif serta kemampuan regulasi diri yang lebih rendah pada anak di dua tahun pertama kehidupannya. Efek yang ditemukan umumnya berada pada tingkat rendah hingga sedang—bukan pengaruh yang dramatis.
Penelitian lain dalam Developmental Psychobiology juga mencatat bahwa stres maternal, terutama terkait peristiwa traumatis, berhubungan dengan perubahan temperamen anak. Respons emosi negatif yang lebih tinggi dan regulasi diri yang lebih rendah bisa memengaruhi cara anak mengelola perasaan dan merespons orang lain.
Bunda tidak perlu panik atau menyalahkan diri sendiri jika pernah mengalami masa sulit saat hamil. Perkembangan anak dibentuk oleh banyak hal: genetik, pola asuh setelah lahir, kondisi keluarga, pengalaman sosial, kualitas tidur, hingga hubungan dengan orang-orang terdekatnya.
Tinjauan sistematis terbaru di BMJ Open yang mencakup 44 penelitian menegaskan hal serupa. Distress psikologis selama kehamilan memang berkaitan dengan perbedaan kecil pada perkembangan kognitif, bahasa, perilaku, dan sosial-emosional anak. Namun para peneliti menekankan bahwa hasilnya bervariasi dan stres prenatal bukan satu-satunya penentu.
Targetnya bukan kehamilan tanpa stres sama sekali—itu hampir mustahil. Yang lebih penting adalah mengenali saat tekanan mulai terasa berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa langkah yang bisa Bunda coba:
Kehamilan yang sehat bukan berarti bebas masalah, melainkan bagaimana Bunda merespons dan mencari dukungan saat dibutuhkan. Dengan mengelola stres, Bunda bukan hanya menjaga diri sendiri, tapi juga memberi awal yang lebih baik bagi tumbuh kembang si kecil. Jika perasaan cemas atau tertekan berlangsung terus-menerus dan mengganggu istirahat atau nafsu makan, jangan ragu meminta bantuan profesional ya, Bunda.