Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nduga, Papua Pegunungan, resmi menetapkan status tanggap darurat selama tiga bulan terhitung sejak 26 Agustus 2026 untuk menangani dampak musim kemarau ekstrem yang memicu kekeringan dan gagal panen. Bupati Nduga Yoas Beon menyebut fenomena turunnya salju di sejumlah distrik telah memutus akses warga dan mengancam ketahanan pangan, sehingga pemerintah daerah mengerahkan tim terpadu untuk penanganan darurat.
WAMENA — Status tanggap darurat yang ditetapkan Pemkab Nduga berlaku hingga akhir November 2026. Penetapan ini diambil setelah musim kemarau yang berlangsung sejak April lalu menyebabkan kekeringan panjang dan fenomena salju turun yang menutupi sejumlah wilayah, khususnya di Distrik Wutpage dan Nenggeagin.
Bupati Nduga Yoas Beon di Wamena, Jumat, mengatakan langkah cepat ini diambil untuk mengantisipasi meluasnya dampak krisis air bersih dan kelangkaan bahan pokok. "Kami pada tanggal 26 Agustus 2026 sudah mengambil langkah cepat menetapkan status tanggap darurat, sekaligus membuka posko dan akan berlangsung selama tiga bulan ke depan," ujarnya.
Tim gabungan yang dipimpin langsung oleh Bupati telah turun ke lokasi terparah di Distrik Wutpage dan Nenggeagin. Salju yang turun dilaporkan menutup hampir seluruh area pemukiman dan lahan warga di dua distrik tersebut.
Dalam kunjungan itu, pemerintah menyalurkan bantuan darurat sebanyak 10 ton beras bagi masyarakat yang terdampak. Bupati Yoas mengungkapkan antusiasme warga sangat tinggi menyambut kehadiran pemerintah di tengah isolasi akibat bencana alam ini.
Selain krisis pangan, Pemkab Nduga menyoroti melonjaknya harga bahan pokok di Kampung Mumugu, Distrik Krepkuri. Wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Asman ini biasanya mengandalkan transportasi sungai, namun debit air kini menyusut drastis akibat kemarau.
"Khusus untuk wilayah (kampung) Mumugu harga bahan pokok dan bangunan saat ini sangat tinggi, karena debit air sungai yang biasa menjadi urat nadi transportasi mengering," jelas Bupati Yoas. Sebagai solusi, pemerintah membuka jalur darat baru dari ibu kota kabupaten, Kenyam, menuju Mumugu agar distribusi logistik dan air bersih bisa berjalan.
Bupati Yoas secara tegas meminta masyarakat di Wutpage dan Nenggeagin untuk tidak mengungsi ke daerah lain. Pemerintah memastikan akan terus hadir memberikan pendampingan dan bantuan selama masa tanggap darurat berlangsung.
"Kami memastikan kehadiran pemerintah di tempat itu untuk memberikan perhatian dan bantuan kepada masyarakat yang terdampak musim kemarau, sehingga jangan mengungsi ke tempat lain," kata Bupati Nduga.
Sejumlah tim lapangan juga telah dibagi untuk menangani kebutuhan air bersih di ibu kota kabupaten Kenyam serta mendistribusikan bahan makanan. Dinas kesehatan dan dinas sosial turut dilibatkan dalam operasi kemanusiaan ini untuk memastikan layanan dasar tetap terpenuhi di tengah kondisi darurat.