Proyek Energi Raksasa di Himalaya Jadi Sorotan Usai Banjir Tewaskan 600 Orang

Penulis: Ragil  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 08:41:02 WIB
Ratusan warga tewas dan ribuan lainnya hilang akibat longsor yang dipicu pecahnya gletser di kawasan Himalaya, perbatasan China-Nepal.

PAPUA — Kematian massal di kawasan Himalaya bukan sekadar bencana alam biasa. Lebih dari 600 orang tewas dan sekitar 3.000 lainnya dilaporkan hilang setelah gletser patah, memicu longsor dahsyat yang menyapu desa-desa, jembatan, hingga pembangkit listrik tenaga air di perbatasan China-Nepal. Meski belum ada indikasi langsung bahwa proyek konstruksi memicu insiden ini, para ahli menilai kehancuran tersebut bisa menjadi wake-up call bagi negara-negara yang tengah menggenjot pembangunan infrastruktur di dataran tinggi.

Kawasan Himalaya memang salah satu wilayah paling sensitif secara ekologis di dunia. Berada di garis patahan tektonik aktif dan dipenuhi sungai-sungai besar yang airnya berasal dari gletser, wilayah ini selalu menarik minat para insinyur untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.

China Pimpin Proyek Raksasa dengan Investasi Rp 2.400 Triliun

Beijing menjadi aktor utama di balik proyek infrastruktur terbesar di kawasan ini. Pemerintah China menargetkan mengubah Tibet menjadi pusat kekuatan energi hijau dataran tinggi dengan bendungan raksasa senilai USD 168 miliar (sekitar Rp 2.400 triliun).

Salah satu proyek teranyar adalah bendungan di sungai Yarlung Tsangpo yang mulai dibangun Juli lalu. Proyek ini diperkirakan akan menghasilkan listrik lebih besar dari bendungan mana pun di dunia. China juga membangun saluran transmisi listrik tegangan ultra tinggi untuk menyalurkan energi bersih ke kota-kota besar.

Tidak hanya soal energi, China juga membangun desa baru dan infrastruktur di sepanjang perbatasan yang disengketakan dengan India. Sejak pertempuran mematikan tahun 2020, kedua negara terus memperkuat kehadiran militer dan infrastruktur di kawasan tersebut.

India dan Nepal Ikut Bersaing dalam Perlombaan Infrastruktur

India tidak mau ketinggalan. Perusahaan pembangkit listrik tenaga air terbesar yang didukung pemerintah India tengah menggarap megaproyek dengan kapasitas 11.200 megawatt di dataran tinggi. New Delhi juga membangun terowongan dan jalur kereta yang memotong celah gunung, yang dapat memfasilitasi pengerahan militer.

Nepal, dengan skala lebih kecil, juga meningkatkan pembangunan pembangkit listrik tenaga air di sungai-sungai Himalaya. Negeri ini kerap menjadi ajang persaingan pengaruh antara China dan India yang sama-sama mendanai berbagai proyek infrastruktur.

Permintaan AI dan Data Center Mendorong Eksploitasi Lebih Intensif

Permintaan pasokan listrik yang melonjak seiring pesatnya perkembangan industri AI dan data center diprediksi membuat pemanfaatan sungai di kawasan ini semakin intensif. Namun para ahli justru menyoroti bahaya dari aktivitas konstruksi itu sendiri.

Meledakkan batu, menuangkan beton ke alam, hingga menampung air di waduk disebut memiliki dampak berbahaya. Tanah longsor dan aliran puing sudah menjadi ciri khas kawasan ini, dan kini semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim.

Isu ini bukan hanya soal geologi, tapi juga geopolitik. Rumor yang menyebar di media sosial mengaitkan insiden ini dengan jebolnya bendungan di sisi perbatasan China. Teori tanpa dasar faktual ini sempat memicu ketegangan, dan Kedutaan Besar China di Nepal merespons langsung melalui platform X: "Tuduhan tidak membantu apa pun, kerja sama menyelamatkan nyawa."

Bagi industri game yang mengandalkan energi besar untuk server dan data center, tragedi ini menjadi pengingat bahwa pusat-pusat produksi energi dunia sedang berada di garis depan risiko iklim. Pilihan lokasi pengembangan infrastruktur di masa depan akan semakin menentukan rantai pasokan digital global.

Reporter: Ragil
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top