Dapur MBG Teluk Wondama Layani 4.000 Penerima per Hari, Komisi A DPRK Minta Tambah Unit Baru

Penulis: Saiful  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 22:58:32 WIB
Dapur MBG Teluk Wondama melayani lebih dari 4.000 penerima per hari, melebihi batas operasional maksimal 3.000 orang.

TELUK WONDAMA — Kapasitas SPPG Wasior (Golden Star) di Iriati telah melampaui batas operasional. Sekretaris Komisi A DPRK Teluk Wondama Robert Gayus Baibaba menyebut kelebihan beban itu berisiko menurunkan kualitas gizi makanan yang disalurkan ke sekolah-sekolah.

"Yang menjadi hal yang dikhawatirkan bahwa SPPG di Wondama sudah melebihi batas jumlah penerima yang diatur dalam petunjuk teknis, yaitu maksimal 3.000, tetapi di sini sudah 4000 lebih. Jadi, sudah ada lebih 1.000. Ini sudah over sekali," ujar Baibaba dalam kunjungan ke dapur MBG di Wasior, Senin (31/8/2026).

Mengapa Dapur Kewalahan?

Kunjungan lapangan Komisi A DPRK menyasar dua SPPG di Wasior, yakni Golden Star di Iriati dan SPPG Maniwak. Temuan utama: jumlah penerima manfaat yang membeludak membuat proses produksi dan distribusi pangan berisiko tidak memenuhi standar.

Politisi PDIP itu menegaskan penambahan dapur bukan sekadar usulan, melainkan kebutuhan mendesak agar pengelolaan makanan bagi siswa SD, SMP, dan SMA bisa dilakukan lebih optimal.

"Jadi, kita harapkan ke depan perlu ada dapur tambahan sehingga bisa me-manage makanan atau apa yang disiapkan bagi siswa SD, SMP, dan SMA itu bisa memenuhi standar sehingga anak-anak itu bisa kenyang dan (dipastikan) bergizi," paparnya.

Pengawasan Berlapis Diminta Diperketat

Selain menambah dapur, Komisi A DPRK mendorong penguatan pengawasan sejak penyiapan bahan makanan di SPPG hingga makanan tiba di tangan penerima manfaat. Menurut Baibaba, titik rawan justru berada di luar dapur.

"Berkaitan dengan keamanan MBG, itu bukan hanya sterilkan di dalam dapur tetapi juga sampai dalam perjalanan jadi pengawasan itu harus diperketat. Karena bisa saja ada hal-hal yang tidak diinginkan itu terjadi dalam perjalanan," kata Baibaba.

Sementara itu, Kepala SPPG Golden Star Santa Borlak memastikan proses penyediaan MBG telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) BGN. Pengawasan dilakukan berlapis oleh pengawas keuangan, ahli gizi, dan kepala SPPG secara bergantian.

"Terkait pengawasan di dapur, kami mempunyai beberapa petugas yang secara bergantian mengawasi. Ada pengawas keuangan, ada ahli gizi dan saya selaku Kepala SPPG. Kami bergantian mengawasi jalannya persiapan MBG sampai distribusi itu tiba di sekolah sampai ompreng kembali ke sini," jelas Santa.

Mengenai rencana dapur baru, Santa membenarkan adanya informasi pembangunan tersebut. Namun, ia menyerahkan kepastian lokasi dan waktu kepada pihak yang berwenang.

Agar Menu Tak Membosankan: Dorongan Pangan Lokal

Dalam kesempatan yang sama, Komisi A DPRK Teluk Wondama mendorong variasi menu menggunakan bahan pangan lokal. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkaya asupan gizi anak.

"Kami sarankan juga kalau bisa ada selingan (menu) jangan yang itu saja-saja. Kalau bisa ada sayur lokal supaya masyarakat bisa ada penghasilan misalnya rebung, bunga papaya, daun kasbih. Saya kira tidak apa-apa karena itu sudah biasa dengan mereka," ujar Baibaba saat meninjau SPPG Maniwak.

Anggota Komisi A DPRK Teluk Wondama Maria Debora Korwam menambahkan usulan penggunaan ubi-ubian sebagai pengganti nasi. Menurutnya, hal ini mencegah kebosanan pelajar sekaligus membuka ruang ekonomi bagi warga.

"Perlu juga pakai ubi-ubian jangan nasi terus karena nanti anak-anak bosan. Dan juga supaya masyarakat bisa ada terima uang," sebut Maria.

Menanggapi hal itu, Kepala SPPG Maniwak Isak Gustaf Layaba menyebut pihaknya telah menerapkan menu variatif. Rebung, daun kasbih, dan garnison atau sayur campuran telah diolah secara bergantian untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa.

"Kami sekarang menunya variatif. Kami juga sudah menggunakan bahan lokal kadang rebung, kadang daun kasbih, pernah juga kita pakai garnison (sayur campuran)," ungkapnya.

Isak berkomitmen memperbaiki mutu layanan, terutama ketepatan waktu distribusi agar siswa tidak terlambat mengonsumsi makanan. "Sekarang ini kami sudah perbaki hal-hal yang masih kurang. Kita juga upayakan waktu pengantaran itu bisa tepat supaya anak-anak makan tidak terlambat," imbuhnya.

Reporter: Saiful
Sumber: linkpapua.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top