TELUK WONDAMA — Rapat kerja perdana PELITA Teluk Wondama dihadiri pengurus lintas agama yang kemudian membahas penguatan kelembagaan, pembentukan bidang, pembagian tugas, hingga penyusunan program kerja. Organisasi ini digadang menjadi rumah bersama bagi pemuda untuk berkolaborasi lintas keyakinan.
Dalam raker tersebut, peserta merancang struktur organisasi yang lebih solid. Setiap bidang yang terbentuk nantinya dituntut memiliki program yang jelas, terukur, dan dapat dieksekusi.
Ketua PELITA Teluk Wondama, Delita Salomina Auri, menyebut keberagaman agama adalah modal sosial untuk membangun kolaborasi. Organisasi ini ingin menjadi wadah bagi seluruh pemuda tanpa memandang perbedaan.
Ketua I Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Teluk Wondama, Abudin Ohoimas, mendorong PELITA melahirkan kegiatan yang menyentuh kebutuhan generasi muda. Ia menegaskan tantangan pemuda tidak hanya soal kerukunan antarumat beragama.
“PELITA dapat membuat kegiatan-kegiatan inovasi bagi anak-anak muda di Teluk Wondama. Jadikan rumah besar Teluk Wondama sebagai tempat yang nyaman dan damai,” ujar Abudin dalam keterangan yang diterima redaksi.
Pemuda di daerah ini juga membutuhkan ruang untuk mengembangkan kreativitas, kapasitas, kewirausahaan, dan olahraga. Keterlibatan aktif dalam pembangunan daerah menjadi bagian penting yang tak bisa dipisahkan dari upaya menjaga kerukunan.
Melalui raker perdana ini, PELITA diharapkan bukan sekadar organisasi yang berbicara tentang toleransi. Kehadirannya akan diuji lewat kerja nyata dan program berkelanjutan yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Harapan kami, PELITA dapat menjadi rumah bersama lintas agama. Bersatu dalam perbedaan, bersinergi untuk Wondama,” kata Delita.
Langkah selanjutnya, PELITA akan membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, FKUB, tokoh agama, organisasi kepemudaan, serta komunitas di Teluk Wondama. Raker perdana ini menjadi titik awal bagi pengurus untuk membuktikan peran organisasi dalam menjawab persoalan pemuda dan pembangunan di daerah.