PAPUA — Toraja di Sulawesi Selatan punya lanskap budaya yang tak ada duanya. Tebing batu berisi liang makam, tau-tau atau patung kayu penjaga kubur, dan upacara adat yang masih hidup jadi daya tarik utama. Tapi justru di situlah batas antara wisatawan dan warga lokal paling mudah dilanggar.
Kasus 2018 jadi buktinya. Dua orang mengunggah foto dengan perilaku tidak etis di kawasan makam adat Toraja ke Facebook. Niatnya cuma untuk teman sendiri. Kenyataannya, foto itu menyebar dan memicu kemarahan warga.
Keduanya akhirnya menyerahkan diri ke polisi. Mereka bersiap menerima sanksi adat setelah jadi bulan-bulanan warganet.
Kawasan makam adat Toraja bukan sekadar spot foto. Bagi keluarga yang masih hidup, lokasi itu menyimpan leluhur mereka. Berpose dengan gaya tertentu di depan liang makam sama dengan melecehkan prosesi duka yang sudah berlangsung turun-temurun.
Norma semacam ini sering terasa asing bagi pendatang. Ada aturan adat yang tidak masuk akal di kepala wisatawan, tapi wajib dipatuhi selama berada di wilayah tersebut.
Media sosial memperbesar risikonya. Satu unggahan bisa dilihat ribuan orang dalam hitungan jam. Dampaknya tidak berhenti di dunia maya, tapi sampai ke ranah hukum dan adat.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan sudah mengatur kewajiban wisatawan secara eksplisit. Pasal 25 menyebut empat hal yang harus dipenuhi setiap orang yang berwisata di Indonesia.
Pelanggaran terhadap kewajiban itu bukan tanpa konsekuensi. Pasal 62 mengatur sanksi yang bisa dikenakan kepada wisatawan yang melanggar.
Sebelum ke Toraja atau daerah adat lain, cari tahu dulu aturan setempat. Tanyakan ke pemandu lokal soal area yang boleh dan tidak boleh difoto. Beberapa kawasan makam memang tertutup untuk pengambilan gambar, terutama dengan pose tertentu.
Saat ragu, lebih baik bertanya langsung ke warga atau tokoh adat. Mereka umumnya terbuka selama niatnya jelas. Hindari memotret prosesi duka atau ritual sakral tanpa izin, apalagi kalau tujuannya cuma mengejar views.
Konten positif dan edukatif justru bisa jadi promosi sehat. Alih-alih mengeksploitasi momen sensitif, wisatawan bisa mengangkat cerita di balik tradisi, sejarah liang makam, atau filosofi tau-tau. Pendekatan ini menghargai warga sekaligus memperkaya pengalaman perjalanan.
Untuk informasi terkini soal aturan kunjungan di kawasan adat Toraja, wisatawan dapat menghubungi dinas pariwisata setempat atau pemandu lokal berlisensi.
Durasi ideal untuk menjelajah Toraja adalah tiga sampai empat hari. Waktu itu cukup untuk mengunjungi beberapa situs adat tanpa terburu-buru, sekaligus memberi ruang untuk memahami konteks budayanya sebelum mengangkat kamera.