PAPUA — Harga bensin BP Ultimate oktan 93 di Chicago menyentuh AS$7,19 per galon, memicu ulang survei Electrek soal ambang harga bahan bakar yang bisa memaksa pengendara paling keras kepala pindah ke mobil listrik. Dari 2.800 lebih responden, hampir separuh meyakini tidak ada harga yang cukup tinggi untuk mengubah pikiran mereka. Survei yang semula digelar April itu kini relevan kembali karena harga di pompa benar-benar menembus angka yang dulu dianggap mustahil.
Pembaruan harga itu dicatat langsung dari pompa bensin di pusat Kota Chicago, tempat satu galon BP Ultimate oktan 93 dijual AS$7,19. Angka tersebut mengonfirmasi skenario teratas yang dulu dipasang Electrek sebagai pilihan paling ekstrem dalam survei sidebar mereka.
Survei awal digelar selama tujuh hari pada April dan mengumpulkan lebih dari 2.800 tanggapan. Pertanyaannya sederhana: seberapa mahal satu galon bensin atau diesel harus dijual agar pengendara paling anti-EV mau beralih ke mobil plug-in.
Temuan paling mencolok adalah hampir separuh responden percaya ada kelompok pengendara yang tidak akan pernah berpindah, berapa pun harga bensin naik. Mereka dianggap sudah terlalu dalam terikat pada mesin pembakaran internal, bahkan saat harga bahan bakar melampaui AS$10 per galon.
Dasar penilaian itu bukan teori. Sejumlah pembaca mengutip pengalaman langsung dari negara yang harga bensinnya sudah di atas AS$11 per galon.
Seorang pembaca yang berbasis di Belanda memaparkan hitungannya. Harga E10 di sana mencapai 2,56 euro per liter, dengan kurs 1,17 dolar AS per euro. Dikonversi ke satuan galon, harga bensin di Belanda setara AS$11,34 per galon.
Listrik di negara itu sekitar AS$0,30 per kWh, atau nyaris nol bila diproduksi sendiri lewat panel surya. Dengan konsumsi 3,2 mil per kWh, biaya listrik untuk jarak setara satu galon hanya sekitar AS$4,8, jauh di bawah AS$11,34 untuk bensin.
Meski selisihnya sebesar itu, pembaca tersebut mengaku tetap ragu. Titik balik harga di Eropa menurutnya sudah terlewati sekitar lima tahun lalu, tetapi peralihan besar-besaran tak kunjung terjadi.
Pembaca lain menyoroti faktor yang lebih mendasar, yakni harga kendaraan baru itu sendiri. Selama mobil lama masih berjalan andal, biaya bahan bakar yang melonjak dari AS$90 ke AS$200 per bulan tetap lebih murah dibanding membeli EV baru atau bekas.
Perhitungan itu berubah ketika mobil lama mulai tidak dapat diandalkan. Pada titik itu, pembaca tersebut mengaku akan beralih ke EV, kemungkinan besar unit bekas.
Sebagian responden menilai keputusan beralih tidak ditentukan oleh harga bensin yang tinggi, melainkan keyakinan bahwa harga itu akan bertahan tinggi. Lonjakan harga saat ini dianggap sementara, sementara usia pakai mobil bisa mencapai 20 tahun.
Faktor lain yang diperhitungkan adalah arah tarif listrik. Sejumlah pembaca menilai tarif listrik naik lebih cepat daripada harga bensin, sehingga keunggulan biaya operasional EV bisa tergerus.
Sisi lain yang diangkat adalah kemampuan memproduksi bahan bakar sendiri. Panel surya di rumah memungkinkan pemilik EV memangkas biaya listrik hingga nyaris nol, sekaligus melindungi diri dari kenaikan tarif jaringan.
Jim Reilly dari GM Energy menyebut kombinasi panel surya, baterai rumah, dan EV sebagai bentuk kemandirian energi. "Saya memiliki kilang dan sistem distribusinya. Saat dunia bereaksi terhadap harga di pompa, biaya saya datar," ujarnya.
Dengan logika itu, kekhawatiran soal kenaikan tarif listrik dianggap kurang beralasan bagi pengendara yang sudah punya pembangkit sendiri. Perdebatan di kolom komentar pun masih berlanjut hingga kini.