JAYAPURA — Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menyampaikan rencana pembangunan rumah sakit terapung melalui keterangan tertulis di Jayapura, Sabtu (26/9/2026). Fasilitas kesehatan itu dirancang menjangkau masyarakat di area terluar yang selama ini terkendala transportasi darat.
Fakhiri menyebut target operasional rumah sakit terapung pada 2027. Ia meminta para dokter bersiap melayani masyarakat Papua hingga ke wilayah paling jauh.
"Saya berdoa pada 2027 kita sudah memiliki rumah sakit terapung. Para dokter harus siap bersama saya melayani masyarakat Papua hingga ke area terluar," ujar Fakhiri.
Fakhiri menilai penguatan sektor kesehatan merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua. Menurutnya, peningkatan kualitas SDM harus diawali dari kesehatan yang baik sebelum melangkah ke sektor pendidikan.
Pandangan itu menempatkan layanan kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan pintu masuk pembangunan manusia di provinsi dengan kondisi geografis paling menantang di Indonesia.
Pemprov Papua juga mendorong peningkatan kualitas fasilitas kesehatan di Kota Jayapura, termasuk penguatan layanan kegawatdaruratan. Langkah ini diambil agar masyarakat memperoleh pelayanan medis memadai di daerah sendiri.
Fakhiri tidak ingin warga Papua harus berobat ke luar daerah dengan biaya mahal. Ia menegaskan seluruh penanganan semestinya bisa dilakukan di RSUD Dok II dan Abepura.
"Saya tidak ingin warga Papua harus berobat ke luar daerah dengan biaya mahal. Semuanya harus bisa ditangani di RSUD Dok II dan Abepura," tegasnya.
Fakhiri menyampaikan gagasan besar menjadikan Papua, khususnya Kota Jayapura, sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan rujukan di kawasan Pasifik. Untuk mewujudkannya, diperlukan dukungan fasilitas memadai, tenaga medis kompeten, serta kolaborasi lintas sektor.
Gagasan itu menuntut kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Papua, dr. Nickanor Kaladius Reumi Wonatorey, Sp.U., mengungkapkan sejumlah tantangan utama pelayanan kesehatan di Papua. Tantangan itu mencakup pemerataan dokter spesialis, keterbatasan fasilitas, kondisi geografis, faktor keamanan, dan sistem rujukan.
"Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Semua pihak harus berkolaborasi untuk mewujudkan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat," pungkasnya.
Rencana rumah sakit terapung dan penguatan layanan di Jayapura menjadi dua langkah yang saling melengkapi. Wilayah terluar butuh jangkauan layanan bergerak, sementara kota butuh fasilitas rujukan yang siap menangani kasus berat tanpa harus mengirim pasien keluar Papua.