PGI Serukan 5 Langkah Atasi Karhutla di Papua dan 6 Pulau Besar, Desak Pemerintah Usut Tuntas Penyebabnya

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 21:16:31 WIB
Petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan di wilayah terdampak.

JAYAPURA — MPH-PGI menilai kebakaran yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia sebagai bencana ekologis yang merusak ekosistem dan mengancam kehidupan manusia. Kabut asap akibat karhutla disebut telah mencemari udara dan membahayakan kesehatan, terutama anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia.

Aktivitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan perekonomian warga terdampak turut terganggu. Masyarakat yang kehilangan mata pencaharian menghadapi beban hidup yang semakin berat.

Dalam siaran persnya, Selasa malam (13/10/2026), PGI menyatakan dampak kabut asap bahkan melintasi batas negara dan memengaruhi kehidupan masyarakat di negara-negara tetangga.

"Kepada seluruh pihak yang terdampak, baik di dalam maupun di luar negeri, kami menyampaikan solidaritas dan keprihatinan yang mendalam," tulis PGI.

Kerusakan Ekosistem dan Krisis Iklim yang Memburuk

MPH-PGI menyoroti dampak karhutla terhadap keanekaragaman hayati. Kebakaran disebut menghancurkan habitat, membunuh satwa, memusnahkan tumbuhan, serta mengancam keberlangsungan berbagai spesies.

Kerusakan hutan dan lahan juga mengganggu keseimbangan ekosistem, memperburuk krisis iklim, dan menghilangkan ruang hidup masyarakat yang bergantung pada alam.

PGI mengapresiasi kerja keras petugas pemadam kebakaran, relawan, tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat yang berjuang menangani karhutla serta menolong warga terdampak.

"Kami mengapresiasi kerja keras para petugas pemadam kebakaran, relawan, tenaga kesehatan, masyarakat setempat, dan semua pihak yang berjuang menangani kebakaran hutan dan lahan serta menolong warga terdampak."

Lima Seruan PGI: dari Pemadaman Cepat hingga Penegakan Hukum

MPH-PGI menyampaikan lima seruan kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, negara tetangga, dan gereja anggota. Berikut isinya:

  • Pemadaman cepat dan terkoordinasi. Pemerintah diminta mengerahkan sumber daya serta personel yang memadai. Kerja sama lintas wilayah dan dukungan internasional perlu dibuka bila diperlukan, dengan keselamatan masyarakat dan perlindungan ekosistem sebagai pertimbangan utama.
  • Perlindungan dan bantuan bagi warga terdampak. Pemerintah dan pemangku kepentingan diminta memastikan pelayanan kesehatan, masker yang sesuai, ruang dengan udara bersih, serta bantuan bagi warga yang kehilangan mata pencaharian. Perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok rentan, termasuk masyarakat adat. Informasi akurat soal kualitas udara dan langkah perlindungan diri juga perlu mudah diakses.
  • Usut tuntas penyebab kebakaran. Aparat penegak hukum dan lembaga pengawas diminta menindak tegas pihak yang terbukti bertanggung jawab serta memperkuat pengawasan terhadap pembukaan dan pengelolaan lahan, termasuk kawasan konsesi. PGI menegaskan kepentingan ekonomi tidak boleh ditempatkan di atas keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.
  • Kerja sama lintas negara. Pemerintah Indonesia dan negara-negara tetangga diminta memperkuat kerja sama pencegahan, penanganan kabut asap lintas batas, pertukaran informasi, serta pemulihan ekosistem di kawasan Asia Tenggara.
  • Solidaritas gereja. Gereja-gereja anggota PGI, PGIW, dan lembaga pelayanan Kristen diminta mewujudkan solidaritas melalui doa dan tindakan nyata. Gereja di wilayah terdampak dapat membuka ruang pelayanan, membantu kebutuhan dasar, dan mendampingi keluarga yang kesulitan. Pelayanan diberikan tanpa membedakan agama, suku, maupun status sosial.

Respons Iman atas Bencana yang Berulang

MPH-PGI menegaskan kebakaran yang terus berlangsung dan berulang menuntut penanganan lebih cepat, menyeluruh, dan berkelanjutan. Keselamatan manusia, pemulihan ekosistem, dan pencegahan kebakaran di masa depan disebut harus menjadi prioritas bersama.

Gereja juga diminta memperkuat pendidikan ekologis dan menggerakkan jemaat untuk terlibat dalam pencegahan kebakaran serta pemulihan lingkungan.

Menurut MPH-PGI, karhutla membutuhkan respons iman. Ketika manusia menderita, hutan musnah, dan satwa kehilangan habitatnya, umat dipanggil untuk peduli terhadap sesama dan seluruh ciptaan.

Reporter: Sutomo
Sumber: jubi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top