WALHI Papua Sebut Kabut di Kota Jayapura adalah Asap, 7.991 Titik Panas Terdeteksi di Tanah Papua

Penulis: Saiful  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 13:01:31 WIB
Direktur WALHI Papua Maikel Primus Peuki menyampaikan pernyataan terkait kabut asap di kantornya di Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura.

JAYAPURA — Direktur WALHI Papua Maikel Primus Peuki menyampaikan pernyataan itu di kantornya di Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura. Pihaknya menilai durasi kabut yang bertahan berhari-hari menjadi penanda bahwa yang menyelimuti kota bukan fenomena cuaca biasa.

"Ini bukan kabut. Kabut di daerah panas hanya mungkin satu dua jam, tapi ini kan berhari-hari, berjam-jam, jadi situasi seperti ini juga terkena dampak dari perluasan asap," kata Maikel Peuki, Rabu (13/10/2026).

Investasi WALHI: Titik Api Berasal dari Areal Konsesi

Hasil investigasi WALHI Papua menunjukkan hampir delapan ribuan titik api di Tanah Papua bersumber dari wilayah yang memiliki konsesi. Di antaranya perusahaan sawit, food estate, dan perusahaan kayu.

Maikel menyebut sumber asap di Jayapura sebagian besar datang dari Boven Digoel, Papua Selatan. Dari sana asap menyebar ke berbagai wilayah Tanah Papua.

"Jadi ini [kabut] asap yang meluas di Tanah Papua. Kita lihat sumber asap di Jayapura ini hampir sebagian besar asap dari Boven Digoel, Papua Selatan, itu asap menyebar sampai ke Jayapura," ucapnya.

Papua Selatan Disebut Titik Awal Kebakaran

Wilayah dengan kebakaran paling banyak dan paling tinggi menurut WALHI Papua berada di Provinsi Papua Selatan. Namun Maikel tidak menyangkal kemunculan kebakaran di daerah lain seperti Biak, Sorong, dan Jayapura.

Dalam sejumlah kasus kebakaran lahan, ia menduga ada oknum yang sengaja membakar. WALHI menilai munculnya narasi pengalihan isu membuat akar masalah tidak terlihat.

"Kita melihat ini pengalihan isu yang dibuat oleh kelompok-kelompok tertentu untuk tidak melihat PSN itu sebagai akar masalah sehingga titik-titik api itu muncul sebelum di daerah-daerah lain," ujarnya.

Menurut Maikel, skala kebakaran tahun ini lebih besar dibanding sebelumnya seiring terjadinya deforestasi di Papua Selatan. "Karena sebelumnya terjadi kebakaran tapi tidak separah ini," kata dia.

BMKG: Asap dari Papua Nugini Ikut Terbawa Angin

Prakirawan Cuaca BMKG Wilayah V Jayapura Naufal Rieki menjelaskan pemantauan pada 9–11 Oktober 2026 mendeteksi titik panas di Kota Jayapura serta Kabupaten Jayapura dan sekitarnya, termasuk Distrik Gresi Selatan.

Citra satelit Himawari pada periode yang sama memantau sebaran kabut asap di sejumlah wilayah Papua. Naufal menyebut partikulat hasil pembakaran bahan organik terbawa angin dari wilayah utara Papua Nugini menuju Kota dan Kabupaten Jayapura.

"Ini disebabkan oleh adanya sebaran partikulat yang berada di udara akibat keberadaan massa partikulat hasil pembakaran bahan organik seperti kebakaran hutan dan lahan yang bersumber dari wilayah utara Papua Nugini oleh angin yang bertiup ke arah barat, barat laut menuju Kota/Kabupaten Jayapura," ujar Naufal Rieki, Senin (12/10/2026).

Karhutla di Doyo Baru dan Sebaran 7.991 Titik Panas

BMKG juga memantau karhutla pada 11 Oktober 2026 di lereng bukit wilayah Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Kombinasi kedua peristiwa itu disebut membentuk akumulasi partikulat tipis di dekat permukaan sehingga udara tampak kabur.

Pemantauan hotspot pada 11 Oktober 2026 pukul 02.00 WP hingga 12 Oktober 2026 pukul 02.00 WP menemukan 7.991 titik panas di seluruh wilayah Papua. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dengan 4.910 titik.

Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, dengan 1.132 titik, lalu Kabupaten Kaimana, Papua Barat, dengan 724 titik. Data itu memperkuat temuan WALHI Papua bahwa asap yang menyelimuti Jayapura berhulu dari kebakaran di wilayah selatan dan sekitarnya.

Reporter: Saiful
Sumber: jubi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top